Pranala.co, BALIKPAPAN — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan pentingnya penguatan sektor kerajinan sebagai bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Tito, untuk data sektor UMKM secara Nasional Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) masih berada di posisi tengah.
Namun, dia optimistis Kaltim memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri kerajinan.
“Pak Rudi (Gubernur Kaltim), masih perlu menghadapi tantangan, karena posisi Kalimantan Timur masih berada di tengah,” ungkap saat menghadiri agenda penutupan HUT Dekranas ke-45 di BSCC Dome Balikpapan, Jumat (11/7).
Padahal, kata dia, Kalimantan Timur punya potensi luar biasa untuk berbagai macam produk kerajinan.
Walaupun posisinya berada di tengah, itu sudah bagus, tapi perlu ditingkatkan lagi.
“Pak Rudi, jangan khawatir, kita akan dampingi,” tuturnya.
Lebih lanjut, Tito mengungkapkan bahwa jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai sekitar 66 juta orang per 2023.
Artinya, sebagian besar masyarakat Indonesia sangat bergantung pada sektor ini, termasuk dalam bidang kerajinan tangan.
Dia mengungkapkan, untuk potensi tertinggi dalam pengembangan UMKM, khususnya di sektor kerajinan di seluruh Indonesia yaitu Jawa Timur.
“Kalau kita lihat kategori UMKM paling produktif dan kreatif, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB dan DKI,” jelas Tito.
Tito memaparkan bahwa Jawa Timur saat ini telah melibatkan sekitar 1,5 juta orang dalam sektor UMKM. Jawa Tengah menyusul dengan 1,4 juta orang, dan Jawa Barat 1,12 juta orang.
“Makanya, UMKM sangat mendukung ekonomi kita,” ucapnya.
Ia menambahkan, kewirausahaan yang identik dengan UMKM mengalami pertumbuhan yang baik.
Adapun beberapa daerah seperti Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, dan Riau juga mulai menunjukkan perkembangan yang positif. “Riau termasuk yang paling aktif,” imbuh Tito.
Ditambahkannya, saat ini, Indonesia telah memiliki sejumlah sentra kerajinan yang berkembang pesat seperti di Bali, Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Papua, Riau, dan Sulawesi Utara. Bahkan, beberapa produk UMKM Indonesia telah dikenal di pasar internasional.
“Ada yang mulai memproduksi dari batok kelapa, karbon, arang, dan sebagainya. Ada juga produk pakaian, fashion, namanya Schmiley Mo, yang sudah terkenal sekali di London,” ujar Tito.
Schmiley Mo dikenal sebagai produk fashion Tanah Air yang sukses menembus pasar global.
Menurut Tito, UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. “Karena UMKM ini menyumbang sekitar 60% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Artinya, uang yang beredar di Indonesia,” kata Tito.
















