MODUS lama itu kembali memakan korban di Bontang, Kalimantan Timur. Remaja-remaja usia sekolah dijerat sabu dengan cara sederhana: diberi gratis terlebih dahulu, lalu dibuat ketergantungan.
Dalam dua hari terakhir, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang menemukan tiga remaja pengguna aktif sabu. Semuanya masih berusia muda. Dua di antaranya bahkan masih duduk di usia SMP.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, mengatakan salah seorang remaja laki-laki mengaku mulai memakai sabu karena pengaruh lingkungan pertemanan.
“Awalnya diberi gratis oleh temannya. Setelah kecanduan, baru diminta membeli sendiri,” katanya, Jumat (22/5/2026).
Dalam asesmen BNN, remaja tersebut sudah masuk kategori kecanduan sedang hingga berat karena menggunakan sabu hampir setiap hari selama tiga bulan terakhir.
Tak lama setelah itu, BNN kembali menemukan dua remaja putri yang juga aktif memakai sabu. Salah satunya bahkan sempat melarikan diri dari rumah sebelum ditemukan bersama rekannya.
“Dari hasil pemeriksaan, keduanya juga pengguna aktif,” ujar Lulyana.
Seluruh remaja tersebut kini menjalani rehabilitasi di pusat rehabilitasi Tanah Merah Samarinda.
BNN Bontang menilai kasus ini menunjukkan pola peredaran narkoba yang mulai agresif menyasar anak-anak muda melalui lingkar pergaulan.
Remaja dijadikan target karena mudah dipengaruhi dan cenderung ingin mencoba hal baru.
“Ini yang harus diwaspadai orang tua. Pergaulan anak sekarang tidak bisa dianggap aman begitu saja,” katanya.
Hingga Mei 2026, tercatat sudah enam remaja di Bontang direhabilitasi akibat penyalahgunaan narkotika.
Angka itu menjadi alarm serius. Sebab peredaran narkoba kini tak lagi menyasar orang dewasa, tetapi mulai masuk ke lingkungan remaja dan anak sekolah.
BNN meminta orang tua lebih peka terhadap perubahan perilaku anak.
“Pengawasan keluarga sangat penting. Jangan sampai sadar ketika anak sudah kecanduan,” tegasnya. [RE/FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















