KASUS penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja kembali terjadi di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang mencatat tiga remaja kembali harus menjalani rehabilitasi akibat kecanduan sabu dalam waktu yang hampir bersamaan.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, mengungkapkan seorang remaja laki-laki lebih dulu dikirim ke pusat rehabilitasi di Samarinda pada Kamis (21/5/2026).
Hasil asesmen menunjukkan kondisi remaja tersebut sudah masuk kategori kecanduan sedang hingga berat.
“Anak tersebut harus direhabilitasi karena tingkat ketergantungannya sudah cukup serius,” ujar Lulyana, kepada Pranala.co, Jumat (22/5/2026).
Yang membuat miris, remaja itu mengaku mulai mengenal sabu dari lingkungan pergaulan. Pada awalnya, narkoba diberikan secara cuma-cuma.
Namun setelah ketergantungan muncul, ia mulai diminta membeli sendiri. BNN Bontang menemukan remaja itu telah menggunakan sabu hampir setiap hari selama tiga bulan terakhir.
Perubahan perilaku anak tersebut akhirnya disadari keluarga. Sang ibu kemudian melaporkan kondisi putranya saat kegiatan reses anggota DPRD beberapa pekan lalu.
Laporan itu langsung ditindaklanjuti.
BNN bersama Pemerintah Kota Bontang mendatangi rumah keluarga dan memberikan pendampingan. Upaya itu akhirnya membuat orang tua dan anak sepakat memilih jalur rehabilitasi.
“Saya bersama wali kota datang langsung menemui anak itu. Setelah diberi pemahaman, akhirnya mereka bersedia direhabilitasi untuk sembuh,” jelas Lulyana.
Belum selesai penanganan kasus pertama, BNN kembali menemukan dua remaja putri yang juga positif menggunakan sabu.
Salah satu remaja bahkan sebelumnya sudah menjalani asesmen dan dijadwalkan masuk rehabilitasi. Namun, siswi yang telah putus sekolah itu sempat melarikan diri dari rumah.
BNN kemudian melakukan pencarian selama beberapa hari.
Saat ditemukan, remaja tersebut ternyata bersama seorang temannya. Dari hasil pemeriksaan, keduanya diketahui merupakan pengguna aktif sabu.
Kedua remaja itu langsung dibawa ke kantor BNN untuk pemeriksaan lanjutan sebelum dikirim ke pusat rehabilitasi di Samarinda.
“Kondisinya sama. Kedua remaja yang masih usia SMP ini sudah tergolong pemakai berat karena hampir setiap hari menggunakan sabu,” ungkap Lulyana.
Tambahan tiga kasus terbaru membuat jumlah remaja yang direhabilitasi di Bontang sepanjang 2026 bertambah menjadi enam orang.
BNN menilai kondisi ini sebagai sinyal bahaya serius. Peredaran narkoba disebut mulai menyusup ke lingkungan pergaulan remaja dengan pola yang sulit terdeteksi keluarga.
Karena itu, pengawasan orang tua diminta diperketat. “Orang tua tidak bisa lagi menganggap remeh. Pengawasan harus diperketat agar anak-anak tidak terjerumus,” tegas Lulyana. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















