PEMERINTAH Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), mulai mematangkan persiapan Festival Erau yang direncanakan berlangsung pada Oktober 2026. Festival tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah menjaga identitas dan kekayaan budaya lokal agar tetap hidup serta dikenal generasi penerus.
Erau merupakan tradisi budaya masyarakat Kutai yang memiliki nilai sejarah, adat, dan spiritual yang kuat. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kutai sekaligus sarana menjaga warisan budaya dan mempererat hubungan antarmasyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Mahriadi, mengatakan persiapan pelaksanaan Erau terus dimatangkan. Koordinasi lintas sektor juga diperkuat karena kegiatan tersebut untuk pertama kalinya akan digelar di Kutim.
“Kami terus menjalin komunikasi dengan berbagai stakeholder, agar pelaksanaan ini berlangsung sukses,” kata Mahriadi, Selasa (11/8/2026).
Rencana awal, Festival Erau Kutim akan berlangsung pada Oktober mendatang. Waktunya bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kutim ke-27.
Pemilihan momentum tersebut diharapkan dapat menghadirkan perayaan yang lebih meriah sekaligus memperkuat semangat pelestarian budaya daerah.
Namun, pemerintah daerah masih menunggu arahan mengenai konsep dan mekanisme pelaksanaan dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sebagai pemangku adat utama dalam pelaksanaan Erau.
“Nah, saat ini kita juga masih menunggu arahan terkait konsep dan mekanisme pelaksanaan dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, selaku pemangku adat utama pelaksanaan Erau,” ujarnya.
Lokasi kegiatan rencananya dipusatkan di kawasan Rumah Besar Adat Kutai, Jalan Ring Road, Sangatta Utara. Sejumlah kegiatan pendukung juga akan dihadirkan untuk menambah kemeriahan festival.
Pelaksanaan Festival Erau nantinya tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pariwisata. Sejumlah perangkat daerah akan dilibatkan sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.
Pembagian peran tersebut disiapkan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat dipersiapkan secara optimal. Sinergi lintas perangkat daerah juga dinilai penting untuk mendukung pelestarian sekaligus pengembangan budaya daerah.
Mahriadi menjelaskan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan menangani aspek ritual adat dan substansi kebudayaan.
Sementara Dinas Koperasi dan UMKM akan mendukung melalui penyediaan stan pameran produk lokal. Dinas Pariwisata sendiri akan berfokus pada promosi dan publikasi festival.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan berperan dalam aspek ritual adat dan substansi kebudayaan. Sementara, Dinas Koperasi dan UMKM akan mendukung melalui penyediaan stan pameran produk lokal. Sedangkan kami (Dinas Pariwisata) akan berfokus pada promosi dan publikasi festival.
Erau memiliki rangkaian ritual, kesenian, dan pertunjukan budaya yang menggambarkan kekayaan tradisi masyarakat Kutai. Tradisi tersebut juga mencerminkan hubungan manusia dengan alam serta nilai-nilai adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam perkembangannya, Erau tidak hanya dikenal sebagai ritual adat. Tradisi tersebut turut berkembang menjadi perayaan budaya yang menampilkan berbagai kesenian tradisional, mulai dari tari-tarian, musik tradisional, permainan rakyat hingga rangkaian upacara adat.
Bagi Kutim, penyelenggaraan Festival Erau menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Kutai kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Momentum tersebut juga dapat menjadi sarana untuk menjaga agar nilai-nilai budaya tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat.
Mahriadi mengatakan Festival Erau tidak hanya diarahkan untuk menjaga tradisi. Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi ruang silaturahmi sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah masyarakat.
Dampak ekonomi juga menjadi bagian yang diharapkan muncul dari penyelenggaraan festival. Pelaku UMKM dan sektor ekonomi kreatif akan mendapat ruang untuk terlibat secara langsung selama kegiatan berlangsung.
Kehadiran stan produk lokal menjadi salah satu bentuk dukungan yang disiapkan pemerintah daerah. Dengan begitu, festival budaya tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperkenalkan dan memasarkan produk mereka. (*)















