ADA saat ketika seseorang merasa sebuah perjalanan telah selesai setelah tugas dituntaskan, ujian dilewati, atau harapan tercapai. Surah Al-Insyirah 7-8 justru mengingatkan bahwa selesainya satu urusan bukan berarti perjuangan berhenti.
Allah berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَبْ
Fa iżā faragta fanṣab. Wa ilā rabbika fargab.
“Apabila engkau telah menyelesaikan suatu kebajikan, teruslah bersungguh-sungguh mengerjakan kebajikan berikutnya. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau mengarahkan seluruh harapan.”
Makna tersebut disajikan secara mengalir dari terjemahan resmi Kementerian Agama. Pesannya terasa sederhana, tetapi dalam: setelah satu kebaikan selesai dikerjakan, seorang mukmin tidak membiarkan waktunya kosong dalam kelalaian.
Makna Surah Al-Insyirah 7-8
Surah Al-Insyirah merupakan surah Makkiyah yang terdiri atas delapan ayat. Keseluruhan surah berisi penguatan kepada Nabi Muhammad SAW tentang kelapangan dada, keringanan beban, serta kepastian bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan.
Pada penghujung surah, Allah kemudian memberikan arahan tentang apa yang dilakukan setelah sebuah urusan selesai.
Surah Al-Insyirah 7-8 berbicara tentang kesinambungan amal. Satu pekerjaan boleh berakhir, tetapi pengabdian kepada Allah tidak berhenti.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ketika seseorang telah menyelesaikan kesibukan duniawinya, ia diperintahkan membulatkan tekad untuk beribadah. Ia kembali menghadap Allah dengan kesungguhan, memurnikan niat, dan menggantungkan harapan hanya kepada-Nya.
Makna ini membuat ayat fa iżā faragta fanṣab tidak tepat jika hanya dipahami sebagai perintah untuk terus berpindah dari satu pekerjaan duniawi ke pekerjaan lainnya.
Ada perpindahan yang lebih penting: dari kesibukan dunia menuju kesungguhan menghadap Allah.
Penjelasan Ulama tentang Ayat 7
Ibnu Katsir mengutip sejumlah penjelasan ulama generasi awal mengenai ayat tersebut.
Mujahid memaknainya sebagai perintah agar seseorang yang telah selesai dari urusan dunia berdiri untuk shalat dengan sungguh-sungguh menghadap Tuhannya.
Dalam riwayat dari Qatadah, kesungguhan itu berkaitan dengan doa ketika berdiri dalam shalat. Dari Ibnu Mas’ud diriwayatkan penjelasan bahwa setelah menyelesaikan shalat wajib, seseorang bersungguh-sungguh mengerjakan shalat malam.
Ibnu Abbas memaknainya sebagai kesungguhan dalam berdoa. Zaid bin Aslam dan Adh-Dhahhak memberikan penjelasan lain, yakni setelah selesai dari jihad, seseorang kembali bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Redaksi penjelasan tersebut berbeda, tetapi bertemu pada satu gagasan: seorang mukmin tidak berpindah dari kesibukan menuju kehampaan. Ia berpindah dari satu bentuk pengabdian menuju pengabdian lainnya.
Pesan Surah Al-Insyirah 7-8 bukan ajakan untuk memaksakan diri tanpa jeda.
Ada waktunya tubuh beristirahat, pikiran ditenangkan, dan luka dipulihkan. Berhenti sejenak untuk mengembalikan tenaga bukan berarti menyerah.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kelelahan membuat hubungan dengan Allah ikut terputus.
Ketika tenaga terbatas, masih ada doa. Ketika jalan terasa tertutup, masih ada sujud. Ketika manusia tidak memahami keadaan kita, masih ada Allah yang mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada.
Perjuangan juga tidak selalu berupa keberhasilan besar yang terlihat banyak orang.
Ia bisa hadir dalam ketekunan mencari nafkah yang halal, kesabaran mendidik anak, kesungguhan menuntut ilmu, keberanian meminta maaf, atau usaha menjaga shalat di tengah pekerjaan yang padat.
Tidak semua perjuangan memperoleh tepuk tangan. Tidak semuanya mendapatkan penghargaan.
Namun, sesuatu yang tidak terlihat manusia tetap berada dalam pengetahuan Allah.
Ayat 8: Mengarahkan Harapan kepada Allah
Setelah memerintahkan kesungguhan, Allah berfirman:
“Wa ilā rabbika fargab” — dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya engkau berharap.
Ayat kedelapan ini menjadi penyeimbang.
Manusia diperintahkan bekerja keras, tetapi tidak boleh menjadikan keberhasilannya sebagai alasan untuk merasa bahwa semua hasil lahir semata-mata dari kekuatannya sendiri.
Kemampuan, kesempatan, kesehatan, dan hasil akhir berada dalam ketetapan Allah.
Ibnu Katsir mengutip penjelasan Sufyan Ats-Tsauri bahwa niat dan harapan hendaknya diarahkan hanya kepada Allah.
Dengan demikian, Surah Al-Insyirah 7-8 menghadirkan dua sisi yang saling melengkapi: bersungguh-sungguh dalam amal dan menyerahkan harapan kepada Allah.
Tangan tetap bekerja. Hati tetap bergantung kepada-Nya.
Ikhtiar dijalankan sebaik mungkin, sementara hasil tidak dijadikan alasan untuk menyombongkan diri.
Bayangkan seorang pendaki yang baru mencapai sebuah dataran.
Ia boleh berhenti untuk menarik napas, memeriksa bekal, dan merawat kaki yang terluka. Tetapi ia tidak menganggap dataran itu sebagai akhir perjalanan.
Ia beristirahat agar memiliki tenaga untuk melanjutkan perjalanan.
Begitu pula kehidupan seorang mukmin.
Selesainya satu urusan dapat menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan, mensyukuri pertolongan Allah, memperbaiki niat, lalu melanjutkan langkah.
Kedua ayat ini juga dapat direnungkan seperti dua dayung pada sebuah perahu. Satu dayung adalah ikhtiar, sedangkan dayung lainnya adalah pengharapan kepada Allah.
Keduanya perlu bergerak bersama.
Ikhtiar tanpa pengharapan kepada Allah dapat menyeret manusia kepada kesombongan. Sebaliknya, berharap tanpa berusaha membuat perjalanan tidak bergerak.
Barangkali hari ini seseorang sedang berdiri di antara dua urusan.
Satu pekerjaan baru saja selesai, tetapi pekerjaan berikutnya belum dimulai. Atau perjuangan sudah berlangsung lama, sementara hasil yang diharapkan belum terlihat.
Surah Al-Insyirah 7-8 mengajak mengisi ruang tersebut dengan dua hal: kesungguhan dan pengharapan.
Setelah berhasil, jangan merasa telah sampai. Setelah gagal, jangan mengira semuanya berakhir.
Ketika sebuah pekerjaan selesai, ada kesempatan untuk kembali menghadap Allah. Di hadapan-Nya, manusia dapat menata ulang niat, mengakui kelemahan, dan memohon kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.
Pertanyaan pentingnya mungkin bukan hanya apa yang kita lakukan ketika sibuk, tetapi ke mana hati pergi ketika kesibukan itu selesai.
Apakah ia mencari kelalaian dan pujian manusia, atau kembali mengetuk pintu Allah?
Semoga Allah memberi kekuatan untuk terus bergerak tanpa kehilangan arah, beristirahat tanpa menyerah, bekerja tanpa menjadi sombong, dan berharap tanpa menggantungkan hati kepada selain-Nya.
Sebab perjuangan seorang mukmin bukan usaha untuk membuktikan bahwa dirinya paling kuat. Ia adalah perjalanan panjang untuk menyadari bahwa tanpa pertolongan Allah, manusia tidak akan sanggup menempuh satu langkah pun. (*)















