RASA cemburu kerap menyapa siapa saja, tak terkecuali para sahabat Nabi Muhammad SAW. Bedanya, yang memicu rasa iri hati mereka bukanlah soal kemewahan hidup, melainkan tentang perolehan pahala.
Syahdan, rombongan kaum fakir miskin mendatangi Rasulullah SAW. Ada kegelisahan mengganjal di dada mereka saat melihat orang-orang kaya begitu leluasa menumpuk ganjaran kebaikan lewat harta.
"Orang-orang kaya punya banyak peluang memperoleh pahala. Mereka sholat dan puasa seperti kami, tapi mereka bisa mendapat pahala lebih karena harta mereka," keluh mereka di hadapan Rasulullah.
Mereka merasa tertinggal. Di mata kaum miskin saat itu, ibadah fisik bisa disamai, namun pintu sedekah materi jelas hanya milik mereka yang berdompet tebal.
Mendengar keluhan jujur tersebut, Rasulullah SAW tidak lantas menyuruh mereka mencari harta sebanyak-banyaknya. Beliau justru membukakan jalan lain yang tak kalah lapang.
Dalam riwayat Imam Muslim—sebagaimana dikutip Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin—Nabi melayangkan pertanyaan yang membuyarkan keputusasaan mereka.
"Tidakkah Allah SWT juga menyuruh kalian bersedekah?" ujar Nabi.
Rasulullah kemudian merinci amalan-amalan sederhana yang nilainya sejajar dengan sedekah. Setiap tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), tahlil (Laa ilaaha illallah), dan takbir (Allahu Akbar) yang terucap dari bibir seorang Muslim adalah sedekah.
Bukan cuma zikir, menyeru pada kebaikan (amar ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar) juga terhitung sebagai sedekah. Bahkan, memberikan nafkah makan untuk keluarga hingga nafkah batin suami-istri bernilai ganjaran serupa.
Kisah serupa dialami Abu Dzar Al-Ghifari, sosok yang dikenal sebagai salah satu sahabat termiskin namun paling bahagia. Abu Dzar pernah terus terang mengaku mengeluhkan hal serupa kepada Nabi.
Respons Nabi kepada Abu Dzar begitu membekas. Beliau membagikan "resep" khusus agar orang yang tak berharta bisa menyamai capaian pahala orang-orang berada di sekitarnya.
"Maukah engkau aku beritahu suatu amalan yang apabila engkau kerjakan niscaya engkau mendapatkan pahala seperti orang-orang kaya?" tanya Rasulullah.
Kuncinya sederhana: membiasakan diri membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali setiap kali selesai menunaikan sholat fardhu (HR Ibnu Majah).
Islam menegaskan bahwa kemuliaan dan pahala melimpah tidak pernah dimonopoli oleh pemilik modal, melainkan terbuka lebar bagi siapa saja yang mau menggerakkan lidah dan hatinya untuk kebaikan. (*)















