HUJAN dalam Islam bukan sekadar fenomena alam, melainkan salah satu bentuk rahmat Allah SWT yang menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk. Alquran menjelaskan bahwa turunnya hujan berkaitan erat dengan kasih sayang Allah sekaligus menjadi bagian dari rezeki yang diberikan kepada manusia sesuai hikmah-Nya.
Tanpa hujan, tanah menjadi tandus, tanaman tidak tumbuh, sumber air menyusut, dan kehidupan manusia maupun hewan akan terganggu.
Karena itu, Alquran tidak hanya menyebut hujan sebagai nikmat, tetapi juga menerangkan sejumlah sebab spiritual yang menjadi jalan datangnya keberkahan tersebut.
Allah SWT berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 27:
وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍۢ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌۭ ٢٧
"Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat." (QS Asy-Syura: 27)
Setelah ayat tersebut, Allah langsung menegaskan bahwa Dialah yang menurunkan hujan sebagai rahmat bagi manusia.
وَهُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ مِنۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوا۟ وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُۥ ۚ وَهُوَ ٱلْوَلِىُّ ٱلْحَمِيدُ ٢٨
"Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji." (QS Asy-Syura: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa hujan turun atas kehendak Allah sebagai bentuk kasih sayang-Nya, sedangkan tertahannya hujan pun mengandung hikmah yang hanya diketahui oleh-Nya.
Istiqamah Menjadi Jalan Turunnya Hujan
Salah satu sebab datangnya hujan yang disebut Alquran adalah istiqamah atau tetap teguh berada di jalan Allah.
Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW beserta orang-orang beriman agar tetap berada di jalan yang lurus sebagaimana termuat dalam Surah Hud ayat 112.
فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌۭ ١١٢
"Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS Hud: 112)
Keterkaitan antara istiqamah dan turunnya hujan kemudian ditegaskan dalam Surah Al-Jinn ayat 16:
وَأَلَّوِ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَـٰهُم مَّآءً غَدَقًۭا ١٦
"Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup." (al-Jinn: 16)
Ayat tersebut dipahami para ulama sebagai isyarat bahwa keteguhan menjalankan ajaran agama menjadi salah satu sebab Allah melimpahkan keberkahan, termasuk hujan yang membawa kehidupan.
Iman, Takwa, dan Menjalankan Syariat
Alquran juga mengaitkan turunnya keberkahan dari langit dengan keimanan dan ketakwaan masyarakat.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A'raf ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ ٩٦
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al-A'raf: 96)
Keberkahan dari langit dipahami mencakup hujan yang menyuburkan bumi, sedangkan keberkahan dari bumi berupa hasil pertanian, tanaman, serta berbagai sumber kehidupan lainnya.
Hal serupa juga dijelaskan dalam Surah Al-Ma'idah ayat 65–66 mengenai Ahli Kitab. Allah menerangkan bahwa jika mereka beriman, bertakwa, dan menjalankan wahyu yang diturunkan, niscaya pintu-pintu rezeki akan dibukakan dari langit maupun bumi.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّـَٔاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَـٰهُمْ جَنَّـٰتِ ٱلنَّعِيمِ ٦٥ وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا۟ ٱلتَّوْرَىٰةَ وَٱلْإِنجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِم مِّن رَّبِّهِمْ لَأَكَلُوا۟ مِن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ أَرْجُلِهِم ۚ مِّنْهُمْ أُمَّةٌۭ مُّقْتَصِدَةٌۭ ۖ وَكَثِيرٌۭ مِّنْهُمْ سَآءَ مَا يَعْمَلُونَ ٦٦
"Dan sekiranya Ahli Kitab itu beriman dan bertakwa; niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan mereka dan mereka tentu Kami masukkan ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Alquran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada sekelompok yang jujur dan taat. Dan banyak di antara mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan." (QS Al-Ma'idah: 65-66)
Syukur Membuka Pintu Nikmat
Syukur menjadi salah satu kunci bertambahnya nikmat Allah.
Sebaliknya, kufur nikmat dapat menghilangkan karunia yang telah diberikan dan menghalangi datangnya karunia yang diharapkan. Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌۭ ٧
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS Ibrahim: 7)
Sebaliknya, kufur terhadap nikmat dapat menjadi sebab hilangnya berbagai karunia yang telah diberikan.
Sejumlah ulama menjelaskan bahwa di antara bentuk musibah yang dapat terjadi akibat kufur nikmat ialah tertahannya hujan, tandusnya tanah, berkurangnya hasil pertanian, hingga melemahnya sumber penghidupan masyarakat.
Alquran juga mengajarkan agar seluruh nikmat, termasuk hujan, disandarkan kepada Allah semata sebagai pemberi rezeki.
Hal ini dipertegas melalui hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa orang yang mengatakan hujan turun karena karunia Allah termasuk orang yang beriman kepada-Nya, sedangkan orang yang mengaitkannya dengan selain Allah telah keliru dalam keyakinannya.
Dalam hadis qudsi, Rasulullah SAW meriwayatkan bahwa Allah berfirman:
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي، كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي، مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ
"Di antara hamba-hamba-Ku ada yang pagi hari beriman kepada-Ku dan ada yang kafir kepada-Ku. Adapun orang yang berkata, 'Kami diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah,' maka ia beriman kepada-Ku dan mengingkari bintang-bintang. Sedangkan orang yang berkata, 'Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu,' maka ia mengingkari-Ku dan beriman kepada bintang-bintang." (HR Muslim)
Istigfar dan Tobat Mendatangkan Keberkahan
Istigfar dan tobat termasuk amalan yang secara tegas disebut Alquran sebagai sebab turunnya hujan.
Nabi Nuh 'alaihissalam menyeru kaumnya sebagaimana termuat dalam Surah Nuh ayat 10–12:
فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًۭا ١٠ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًۭا ١١ وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَٰلٍۢ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّـٰتٍۢ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَـٰرًۭا ١٢
"Maka aku berkata (kepada mereka), "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu." (QS Nuh: 10-12)
Begitu pula Nabi Hud 'alaihissalam menyeru kaumnya:
وَيَـٰقَوْمِ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓا۟ إِلَيْهِ يُرْسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًۭا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا۟ مُجْرِمِينَ ٥٢
"Dan (Hud berkata), "Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa." (QS Hud: 52)
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa memohon ampun kepada Allah bukan hanya mendatangkan penghapusan dosa, tetapi juga membuka jalan datangnya berbagai keberkahan dunia.
Doa dan Salat Istisqa Saat Kekeringan
Ketika hujan tidak kunjung turun, Islam mengajarkan umatnya untuk memohon kepada Allah melalui doa dan salat istisqa.
Alquran mengabadikan kisah Nabi Musa 'alaihissalam yang memohon air bagi kaumnya sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 60. Allah kemudian memerintahkan Nabi Musa memukul batu dengan tongkatnya hingga memancar dua belas mata air.
: ۞ وَإِذِ ٱسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ فَقُلْنَا ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْحَجَرَ ۖ فَٱنفَجَرَتْ مِنْهُ ٱثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًۭا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍۢ مَّشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ مِن رِّزْقِ ٱللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ ٦٠
"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!" Maka memacarlah darinya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan." (QS Al-Baqarah: 60)
Rasulullah SAW juga memberikan teladan melalui pelaksanaan salat istisqa. Beliau pernah berdoa memohon hujan ketika menyampaikan khutbah Jumat dan juga melaksanakan salat khusus bersama para sahabat hingga Allah menurunkan hujan.
Karena itu, ketika menghadapi musim kemarau atau kekeringan, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, istigfar, tobat, serta memohon kepada Allah dengan penuh keyakinan.
Alquran mengajarkan bahwa hujan merupakan bagian dari rahmat Allah yang berkaitan erat dengan kondisi spiritual manusia.
Istiqamah, iman, takwa, syukur, istigfar, tobat, serta doa dan salat istisqa disebut sebagai sebab-sebab datangnya keberkahan dari langit.
Meski manusia tetap diperintahkan menempuh berbagai ikhtiar lahiriah, Islam mengingatkan bahwa seluruh rezeki, termasuk turunnya hujan, berada dalam kekuasaan Allah SWT. Dialah yang menurunkan hujan dengan rahmat-Nya, menahannya dengan hikmah-Nya, serta mengabulkan doa hamba-hamba yang memohon kepada-Nya. (*)















