PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Timur alias Pemprov Kaltim mengencangkan sabuk penanganan penyakit menular melalui peluncuran program Desa dan Kelurahan Siaga Tuberkulosis (TB). Langkah ini ditempuh guna mempercepat penemuan kasus, mengawal pengobatan pasien hingga sembuh total, serta memutus mata rantai penularan TBC di masyarakat.
Penyakit TBC hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan publik. Masalah ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan erat dengan krisis gizi buruk dan stunting, terutama pada anak-anak.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim Jaya Mualimin menegaskan penanganan TBC memerlukan komitmen ekstra dan tindakan masif dari seluruh lapisan masyarakat.
"Penyakit TB atau TBC ini menjadi penting untuk ditangani secara serius. Kita harus menemukan dan mendampingi pasien sampai sembuh total," kata Jaya saat peluncuran Desa Siaga TB di Ruang Ruhui Rahayu, Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (11/8/2026).
Pada tahap awal, Pemprov Kaltim menetapkan 74 desa dan kelurahan yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota sebagai pelopor Desa Siaga TB.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menginstruksikan agar intervensi kesehatan ini tidak berhenti di tahap awal semata. Seno menegaskan seluruh wilayah Kaltim harus terjangkau program serupa.
"Keberhasilan eliminasi TB sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat dari tingkat paling bawah sampai provinsi," tegas Seno Aji.
Seno menargetkan perluasan program hingga mencakup seluruh 1.038 desa dan kelurahan di Kalimantan Timur. Menurutnya, partisipasi aktif warga di tingkat tapak menjadi kunci utama dalam memutus penyebaran kuman TBC.
Melalui skema Desa Siaga TB, pemerintah menggerakkan kader desa, pengurus TP PKK, tokoh masyarakat, dan perangkat lokal untuk menjadi ujung tombak.
Mereka bertugas memperkuat edukasi, melakukan deteksi dini, menjalankan investigasi kontak, memdampingi pengobatan pasien, serta mengikis stigma negatif terhadap penderita TBC.
Guna mengoptimalkan pelacakan kasus, intervensi ini diintegrasikan langsung dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Integrasi tersebut memungkinkan proses skrining TBC berjalan lebih meluas sehingga kasus baru dapat terdeteksi sejak dini.
Komitmen penanganan penyakit menular ini diperkuat melalui penandatanganan kerja sama antara TP PKK Kaltim dan sejumlah organisasi kesehatan lokal.
Kemitraan strategis ini melibatkan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kaltim, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kaltim, serta Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Kaltim untuk memastikan gerakan berjalan terpadu. (*)















