MENJADI guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ternyata menyimpan tingkat tekanan yang tak main-main. Di jenjang ini, kekosongan posisi pendidik bahkan tak boleh terjadi meski hanya dalam hitungan jam.
Kepala Seksi Kurikulum dan Peserta Didik Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, Miftachul Khoir, menyebut dinamika di PAUD bergerak sangat cepat. Setiap kali ada guru yang memasuki masa pensiun, posisi itu wajib langsung terisi tanpa jeda.
"Di PAUD itu tidak bisa kosong lama. Begitu ada yang pensiun, biasanya langsung disiapkan penggantinya," tegas Miftachul saat ditemui, Senin (20/7/2026).
Bukan tanpa alasan aturan tak tertulis ini berlaku keras. Anak-anak di usia emas (golden age) berada dalam fase super aktif, eksploratif, dan membutuhkan perhatian visual serta emosional secara nonstop.
Mereka belum memiliki kemampuan untuk belajar mandiri layaknya murid SD, SMP, atau SMA. Kehadiran guru bukan sekadar pengajar, melainkan pusat navigasi seluruh aktivitas anak di kelas.
"Sehari saja guru izin, itu sudah terasa sekali bedanya. Guru lain bisa langsung kewalahan karena anak-anak butuh pendampingan terus-menerus," beber Miftachul.
Ia menjelaskan bahwa fungsi PAUD sejatinya jauh melebihi tempat belajar membaca, menulis, atau berhitung (calistung). Lembaga ini merupakan ruang adaptasi paling krusial bagi anak untuk melangkah ke dunia luar.
Di sinilah balita belajar melepaskan rasa cemas saat berpisah dari orang tua, mengelola emosi, hingga berkenalan dengan lingkungan sosial baru.
Sensitivitas emosional anak-anak ini paling terlihat saat memasuki Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di awal tahun ajaran baru. Suasana kelas bisa berubah drastis dari yang semula riang menjadi riuh oleh tangisan dan tantrum.
Jika di jenjang SD kegiatan MPLS bisa dikelola secara bergiliran oleh tim guru tertentu, cerita di PAUD sama sekali beda.
"Kalau di PAUD, saat MPLS semua wajib ikut terlibat. Kepala sekolah, seluruh guru, bahkan tenaga kebersihan juga ikut membantu menenangkan anak-anak," ungkapnya.
Untuk menjaga kestabilan belajar, mayoritas PAUD di Bontang menerapkan sistem pendampingan berlapis. Selain guru utama, ada guru pendamping (co-teacher) yang siaga membantu jalannya aktivitas harian.
Bahkan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK), ketersediaan shadow teacher atau guru bayangan menjadi syarat mutlak demi pendampingan personal.
"Kalau ada anak berkebutuhan khusus, biasanya ada shadow. Jadi memang tenaga pendidik di PAUD harus selalu siap dan responsif," tambah Miftachul.
Kebutuhan tenaga yang masif dan mendesak ini membuat mekanisme perekrutan guru PAUD—terutama di sektor swasta—tergolong lebih fleksibel dibanding jenjang formal lain. Peluang terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki passion mendidik.
Namun, Miftachul mematok garis tegas: fleksibilitas bukan berarti menurunkan standar kualitas mental.
"Di PAUD yang penting bukan cuma sekadar ada guru, tapi guru yang benar-benar siap terlibat penuh. Ini fase paling menentukan dalam fondasi tumbuh kembang generasi kita," pungkasnya. (*)















