KONSUMSI mi instan masyarakat Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di dunia dengan angka mencapai 14,5 miliar porsi sepanjang 2023. Fenomena ini menegaskan posisi mi instan sebagai makanan pokok sekunder yang nyaris tak terpisahkan dari gaya hidup harian warga tanah air.
Laporan World Instant Noodles Association (WINA) mencatat permintaan global produk cepat saji ini menembus 120 miliar porsi. Wilayah Asia mendominasi pasar dunia, di mana posisi pertama ditempati Tiongkok dan Hong Kong yang mencatatkan angka fantastis sebesar 42,2 miliar porsi.
Berikut daftar 10 negara dengan angka konsumsi mi instan tertinggi di dunia:
Tiongkok & Hong Kong: 42,2 miliar porsi
Indonesia: 14,5 miliar porsi
India: 8,7 miliar porsi
Vietnam: 8,1 miliar porsi
Jepang: 5,8 miliar porsi
Amerika Serikat: 5,1 miliar porsi
Filipina: 4,4 miliar porsi
Korea Selatan: 4,0 miliar porsi
Thailand: 4,0 miliar porsi
Nigeria: 3,0 miliar porsi
Tingginya angka penyerapan pasar lokal berbanding lurus dengan kepraktisan penyajian serta harga yang terjangkau. Bagi masyarakat urban hingga kelompok pekerja sibuk, sajian cepat ini menjadi solusi utama mengganjal lapar saat waktu mendesak.
Penelitian Agnes Risma Ronsumbre dan tim yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Gizi mengungkapkan bahwa 65 persen responden memilih mi instan karena kemudahan pengolahannya. Sementara itu, 20 persen responden menjadikan harga ekonomis sebagai pertimbangan utama.
Studi tersebut juga menggarisbawahi dominasi pola konsumsi pada kelompok mahasiswa yang tinggal di rumah kos atau asrama. Keterbatasan dana bulanan dan minimnya fasilitas memasak memaksa mereka bergantung pada pasokan sajian serba cepat ini.
Efek Gurih MSG dan Tingkat Literasi Gizi
Selain faktor harga, cita rasa gurih dari kandungan monosodium glutamate (MSG) atau natrium turut memperkuat ketergantungan konsumen. American Society for Nutrition menjelaskan, kombinasi MSG dan penambahan protein seperti telur mampu memicu rasa kenyang lebih cepat sekaligus memberikan kepuasan rasa yang membuat ketagihan.
Sayangnya, tingginya tingkat konsumsi ini belum diimbangi dengan pemahaman gizi yang memadai. Studi yang sama mencatat 75 persen responden memiliki tingkat pengetahuan gizi tergolong rendah, sehingga pemilihan makanan sering kali mengabaikan keseimbangan nutrisi harian.
Para ahli kesehatan menyarankan agar masyarakat tidak menjadikan mi instan sebagai asupan utama secara terus-menerus. Pemenuhan gizi seimbang dari bahan pangan segar (real food) tetap menjadi kebutuhan mutlak untuk menjaga daya tahan dan kesehatan tubuh jangka panjang. (*)















