INDONESIA kini duduk di jajaran 10 besar dunia untuk pengguna aktif mingguan ChatGPT. Bukan angka kaleng-kaleng. OpenAI sendiri yang mengumumkannya.
Bagi OpenAI, ini bukan sekadar statistik. Ini sinyal. Bahwa AI sudah masuk ke keseharian orang Indonesia, jauh lebih cepat dari yang banyak orang kira. Tapi ada catatan penting di baliknya.
Head of Policy OpenAI Asia Tenggara, Sandy Kunvatanagarn, mengingatkan: banyaknya pengguna belum tentu sama dengan tingginya kemampuan. Ia bilang, orang Indonesia memang sudah akrab dengan AI. Tapi sebagian besar masih di level dasar. Belum menyentuh kemampuan AI yang sesungguhnya bisa mengubah cara kerja dan mendongkrak ekonomi.
"Kita perlu memastikan pemanfaatan AI tidak berhenti pada penggunaan dasar, tetapi bergerak ke pemanfaatan canggih yang dipadukan dengan konteks dan kearifan lokal," kata Sandy.
Kuncinya, menurut dia, ada di kolaborasi. Antara perusahaan teknologi global, pemerintah, industri, dan masyarakat sipil. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri.
OpenAI tidak asal bicara. Mereka punya data.
Perusahaan ini merilis laporan berjudul "Menutup Kesenjangan Kapabilitas Kecerdasan Artifisial di Indonesia". Sebuah studi yang, menurut OpenAI sendiri, cukup strategis — sekalipun mereka sudah beroperasi secara global, memahami lanskap tiap negara tetap jadi keharusan.
Hasilnya cukup mengejutkan. Lebih dari 50 persen masyarakat Indonesia sudah menggunakan AI, baik untuk tugas harian maupun mingguan. Artinya, sekitar 1 dari 5 orang Indonesia kini hidup berdampingan dengan AI dalam aktivitas sehari-hari.
Yang menarik, penggunaannya tidak berhenti di level ngobrol biasa dengan chatbot.
Indonesia Masuk Top 5 Persen Dunia untuk "Reasoning Tokens"
Ini bagian yang jarang disorot media: soal reasoning tokens, atau token penalaran.
Fitur ini dipakai untuk hal-hal yang lebih berat — menyelesaikan masalah kompleks, melakukan analisis mendalam. Bukan sekadar tanya jawab ringan. Dan dalam pemanfaatan fitur ini, Indonesia masuk top 5 persen dunia.
Tren lain yang terekam: masyarakat mulai merambah agentic AI, seperti Codex.
Codex awalnya dibuat untuk urusan coding. Tapi di Indonesia, ceritanya beda. Lebih dari separuh penggunanya justru bukan orang teknis. Mereka datang dari divisi hukum, riset, sampai pemasaran.
Karena pola pemakaian yang unik ini, Indonesia kini masuk lima besar dunia pengguna Codex.
Di balik angka-angka mentereng itu, OpenAI tetap jujur soal satu hal: masih ada capability gap, kesenjangan kemampuan.
Sebagian besar pelaku usaha dan masyarakat, kata mereka, masih di tahap basic usage. Baru menyentuh permukaan. Padahal potensi ekonominya ada di pemanfaatan tingkat lanjut — yang justru belum banyak digarap.
Jadi soal ekosistem AI Indonesia, ini bukan lagi cuma soal menambah jumlah pengguna. Ini soal menaikkan level.
Untuk membantu menutup kesenjangan ini, OpenAI menggandeng lembaga riset kebijakan Southeast Asia Policy Institute (SEAPPI). Tujuannya, merumuskan rekomendasi kebijakan yang bisa benar-benar dipakai pemerintah.
OpenAI bukan baru pertama kali melakukan ini di Asia Tenggara.
Sebelum Indonesia, mereka sudah lebih dulu menjalin kemitraan serupa dengan Thailand — bersama National Innovation Agency (NIA), jaringan modal ventura, dan sejumlah kampus di sana. Hasilnya, lahir program akselerator AI: pelatihan teknis, insentif komputasi, sampai pendanaan untuk startup dan developer lokal.
Sandy bilang, skema seperti ini terbuka untuk direplikasi di Indonesia.
Harapannya bukan cuma mempersempit kesenjangan kapabilitas. Tapi juga membuka jalan bagi solusi AI buatan lokal, yang kelak bisa bersaing di panggung regional.
"Kami sangat bersemangat untuk bekerja sama secara erat dengan pemerintah Indonesia, pemimpin industri, dan masyarakat sipil guna membangun ekosistem AI yang inklusif dan berdampak tinggi," pungkas Sandy. [ANTARA]















