SEKTOR perkebunan kelapa sawit di Kutai Timur (Kutim) sebenarnya menyimpan ribuan peluang kerja. Namun, raksasa hijau ini seolah bertepuk sebelah tangan. Masyarakat lokal hingga kini masih enggan melirik lapangan pekerjaan di hamparan kebun sawit.
Kondisi tersebut memicu dilema tersendiri. Di satu sisi, angka pencari kerja daerah terus bergerak. Di sisi lain, perusahaan perkebunan terpaksa memboyong pekerja dari luar daerah demi menjaga roda operasional tetap berputar.
Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kutim, Sulisman, mengungkapkan fakta ini usai menggelar serangkaian kunjungan ke berbagai perusahaan perkebunan. Hasil diskusi di lapangan menunjukkan pola yang seragam.
"Mayoritas tenaga kerja lapangan di kebun masih berasal dari luar daerah. Setelah diselidiki, karena banyak masyarakat lokal tidak minat melamar," ungkap Sulisman, Kamis (30/7/2026).
Alasannya terbilang klasik namun nyata: gengsi dan nilai rupiah. Sebagian besar pencari kerja di Kutim masih menjadikan sektor pertambangan sebagai impian utama karena iming-iming gaji yang jauh lebih menggiurkan.
Sayangnya, ekspektasi masyarakat belum sejalan dengan realitas industri tambang saat ini. Sektor ekstraktif tersebut sedang meredup akibat pengetatan dan penurunan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemerintah pusat.
Dia melanjutkan, masyarakat Kutim diakui memang masih tertuju ke tambang. Padahal saat ini banyak perusahaan tambang menahan ekspansi dan tak bisa merekrut karyawan dalam jumlah besar akibat efisiensi produksi. Hanya beberapa perusahaan saja yang kondisinya benar-benar stabil.
Impasse atau kebuntuan ini menaruh pemerintah daerah pada posisi serba salah. Distransnaker Kutim menegaskan bakal terus mengawal implementasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2022 yang mengamanatkan prioritas penyerapan tenaga kerja lokal.
Langkah konkret juga digenjot lewat Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mengasah keterampilan para pemuda daerah. Namun, regulasi dan pelatihan teknis tak akan berdampak banyak jika pola pikir para pencari kerja belum bergeser.
Sulisman mengimbau masyarakat agar tidak menggantungkan nasib hanya pada satu sektor saja. Sektor perkebunan modern hari ini menawarkan kepastian karier dan kesejahteraan yang tak kalah menjanjikan bila digeluti secara serius. (*)















