RENCANA investasi raksasa di sektor pertambangan Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim), akhirnya menemui titik terang. Setelah terkatung-katung selama 12 tahun, PT Bhakti Energi Persada (BEP) bersiap melakukan uji coba penambangan di wilayah tersebut.
Langkah awal ini ditandai dengan rencana pembangunan tempat penampungan sementara atau stockpile batu bara di Desa Jak Luay. Proyek ini menjadi angin segar bagi pencari kerja lokal, mengingat komitmen perusahaan yang akan memprioritaskan tenaga kerja setempat.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menyambut baik kabar ini saat menerima audiensi manajemen PT BEP di ruang kerjanya. Ardiansyah menegaskan, pemerintah daerah memberikan lampu hijau penuh selama seluruh regulasi dan dokumen lingkungan dipenuhi.
"Silakan dilaksanakan sesuai prosedur. Saya senang karena investasi ini akan menambah lapangan kerja baru di Kutim," ujar Ardiansyah tegas.
Terganjal Jalur Hauling 120 Kilometer
Di balik potensi ekonominya, proyek ini menyimpan cerita perjuangan panjang. Direktur PT BEP, Murodi, mengungkapkan bahwa Izin Usaha Pertambangan (IUP) perusahaan sebenarnya sudah kantonginya sejak tahun 2014 silam.
Namun, hingga pertengahan 2026 ini, riak mesin tambang belum juga terdengar secara komersial. Masalahnya klasik, yaitu infrastruktur logistik yang belum rampung.
"Cadangan kami cukup besar, tetapi masih ada kendala, terutama jalan hauling sepanjang sekira 120 kilometer yang belum selesai," ungkap Murodi usai pertemuan.
Tantangan PT BEP kian berat karena batu bara di Muara Wahau tergolong berkalori rendah, yakni sekitar 3.200 kcal. Dengan jarak angkut mencapai ratusan kilometer, biaya operasional otomatis membengkak dan menekan nilai keekonomian proyek.
Murodi tidak menampik bahwa keberlanjutan investasi ini sangat bergantung pada fluktuasi harga batu bara di pasar global. Jika harga membaik, pembangunan jalan angkut sepanjang 120 kilometer tersebut baru masuk kategori layak secara bisnis.
Saat ini, pihak perusahaan tengah fokus menyelesaikan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL) sesuai arahan teknis Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur. Fasilitas stockpile di Desa Jak Luay akan menjadi pembuktian awal kepatuhan lingkungan mereka.
Manajemen PT BEP sendiri memasang target realistis agar roda produksi bisa berputar penuh dalam waktu dekat.
"Kami berharap harga batu bara terus membaik agar investasi pembangunan jalan menjadi lebih layak secara ekonomi. Target kami, mudah-mudahan dalam tiga tahun ke depan sudah bisa beroperasi," pungkas Murodi penuh harap. (*)
















