PRESIDEN Prabowo Subianto resmi mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk menggantikan Perry Warjiyo. Langkah ini disampaikan melalui surat presiden (surpres) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI untuk memulai proses uji kepatuhan dan kelayakan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membenarkan penyerahan dokumen tersebut. Pemerintah telah menjalin komunikasi intensif dengan pimpinan parlemen guna memproses pergantian pimpinan bank sentral serta sejumlah pejabat negara lainnya.
"Kami mengirimkan beberapa surpres ke DPR, tadi kami sudah berkomunikasi dengan Ibu Puan dan Pak Dasco. Yang pertama adalah mengenai calon Gubernur Bank Indonesia disertai dengan calon Deputi Gubernur Senior," kata Prasetyo di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Selain posisi puncak di BI, surpres tersebut mencakup pengajuan nama untuk posisi Deputi Gubernur BI, anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga duta besar negara sahabat. Seluruh berkas kini berada di tangan DPR untuk ditindaklanjuti sesuai mekanisme perundang-undangan.
Nama Destry Damayanti sebenarnya bukan kejutan dalam bursa pimpinan BI. Sinyal dukungan Presiden Prabowo sudah terlihat saat acara penyerahan 62.000 unit KPR Sejahtera FLPP di Batang, Jawa Tengah, akhir Juli lalu.
Saat itu, Prabowo secara terbuka menyapa Destry yang hadir dalam kapasitasnya sebagai Pejabat Gubernur Sementara (Pjs) BI. Prabowo bahkan melempar sinyal positif mengenai kelayakan Destry memimpin bank sentral.
"Ini Ibu Destry adalah Pejabat Gubernur Sementara, kayaknya gimana? Oke? Terserah DPR nanti ya," ujar Prabowo di hadapan hadirin saat itu.
Keputusan mengajukan calon tunggal ini langsung direspons positif oleh pasar keuangan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat tajam tak lama setelah kabar surpres tersebut tersebar.
Data Bloomberg mencatat nilai tukar rupiah melonjak 0,88 persen atau naik 158 poin ke posisi Rp17.739 per dolar AS pada perdagangan Senin sore. Penguatan ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap kepastian figur pimpinan bank sentral.
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai Destry sebagai pilihan paling aman dan rasional bagi pemerintah. Pengalamannya yang panjang di sektor keuangan membuat figur Destry sangat diterima oleh pelaku pasar.
"Destry merupakan pilihan yang paling aman bagi Presiden Prabowo. Selain mempunyai pengalaman di BI, LPS, Bank Mandiri, dan Deputi Gubernur Senior BI, ia merupakan kandidat yang fleksibel dalam berkoordinasi dengan pemerintah," kata Wijayanto.
Kendati demikian, Wijayanto mengingatkan tantangan terbesar Destry kelak adalah menjaga independensi BI. Bank sentral harus tetap obyektif di tengah tekanan fiskal pemerintah yang membutuhkan sokongan kebijakan moneter demi mengejar target pertumbuhan ekonomi.
Pandangan senada disampaikan Kepala Ekonom BCA David Sumual. Menurutnya, rekam jejak Destry di BI, industri perbankan, hingga pasar modal memberikan nilai kredibilitas tinggi di mata investor.
"Beliau sangat mengerti kondisi pasar keuangan. Kredibilitasnya di mata pasar cukup kuat karena berpengalaman luas di berbagai institusi," tutur David.
David menekankan bahwa sinergi antara BI dan pemerintah memang krusial, tetapi independensi bank sentral tidak boleh dikorbankan.
BI dituntut tetap independen dalam menentukan arah kebijakan moneter, terutama saat menghadapi ketidakpastian ekonomi global, tensi geopolitik, serta potensi tekanan inflasi domestik. (*)















