New Normal di Samarinda; Satu Ruang Kelas Maksimal 20 Siswa

oleh -
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda, Asli Nuryadin.

DINAS Pendidikan (Disdik) Kota Samarinda, Kalimantan Timur, sedang merancang pola pembelajaran dalam kelas untuk menghadapi new normal atau tatanan kelaziman baru. Ini untuk kelancaran proses belajar mengajar, sekaligus untuk mencegah penularan COVID-19.

“Sekarang kita sudah menjalankan tatanan new normal karena pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) dilakukan secara daring. Juli mendatang ketika memasuki tahun pelajaran baru yang strateginya pun sudah dibahas,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda, Asli Nuryadin di Samarinda, Selasa (2/6).

Dalam penerapan sistem belajar mengajar dalam kelas, ia akan mengikuti standar pertemuan yang dilakukan Aparatur Sipil Negara (ASN). Yakni tidak boleh lebih dari 20 orang dalam satu ruang pertemuan, sehingga belajar dalam kelas pun akan mengikuti protokol kesehatan.

Selama ini, lanjut Asli, jumlah peserta didik dalam satu kelas di kisaran 28-30 anak. Untuk itu, dalam penerapan Normal Baru mendatang, maka pihaknya akan membagi dua. Satu kelas yang biasanya masuk sekaligus, maka dalam hal ini akan dibagi menjadi dua kali masuk atau dibagi dua kelas agar jarak kursi antarpeserta didik bisa diatur.

Selain itu, lanjut dia, mulai guru hingga peserta didik juga harus mengenakan masker, disiapkan tempat cuci tangan dan sabunnya. Siswa harus diberi pemahaman mengenai jaga jarak, pokoknya semua protokol kesehatan harus kita ikuti dalam proses belajar mengajar.

Hal yang menjadi persoalan dalam pembagian peserta didik dari satu kelas menjadi dua kelas, lanjut Asli, adalah perbandingan jumlah siswa dan ruang kelas yang tersedia.

SD misalnya, selama ini saja sudah ada satu kelas yang diisi sampai tiga sif. Pertama adalah kelas pagi sampai pukul 10.00, sif kedua pada pukul 10.30-13.00, dan sif ketiga pada pukul 13.30 hingga sore.

Untuk itu, rancangan yang telah dibahas pihaknya dalam mengatasi hal ini, ia akan menerapkan pola alternatif. Misalnya, untuk kelas 1,2,3 masuk sekolah pada Senin dan Selasa, hari berikutnya belajar dari rumah, kemudian Rabu dan Kamis diisi kelas yang lain, begitu seterusnya.

“Persiapan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi, sedangkan dalam praktiknya, tentu kami tetap mengikuti perkembangan. Saya juga akan minta izin wali kota dalam penerapan ini sambil melihat kondisi lingkungan,” ucap Asli. (Antara)

No More Posts Available.

No more pages to load.