SUDAH hampir 6 bulan Muhammad Nazmin menunggu motornya kembali. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Samarinda itu mengaku berkali-kali mendatangi penyidik, menunjukkan lokasi motor yang diduga masih berada di tangan pelaku, hingga berharap laporannya segera diproses. Namun, yang ia terima justru ketidakjelasan.
Kekecewaan itu akhirnya diluapkan Nazmin lewat sebuah video surat terbuka di TikTok melalui akun @pinkroxxy. Video tersebut mendadak viral dan telah ditonton lebih dari 233 ribu kali. Dalam rekaman itu, Nazmin meminta perhatian Kapolri atas kasus pencurian motor yang dilaporkannya sejak 4 Desember 2025 tetapi disebut belum menunjukkan perkembangan berarti.
“Rumah terduga pelaku yang hanya berjarak kurang lebih satu kilometer dari kos saya telah saya tunjukkan kepada penyidik dan terlihat jelas motor saya ada terparkir di garasinya,” ujar Nazmin dalam video tersebut.
Bagi Nazmin, kehilangan motor bukan sekadar kehilangan kendaraan. Motor itu menjadi satu-satunya alat transportasi untuk kuliah dan menjalani aktivitas harian di Samarinda. Sejak motor hilang, orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani disebut harus mengirim tambahan biaya transportasi sekitar Rp80 ribu per hari agar ia tetap bisa berangkat kuliah.
Situasi itu membuat Nazmin mengaku mulai memikirkan kemungkinan terburuk: menghentikan kuliah karena kondisi ekonomi keluarga yang semakin berat. Narasi itulah yang kemudian memicu simpati luas di media sosial. Banyak warganet menyoroti bagaimana kasus pencurian kendaraan yang dinilai sederhana justru berlarut-larut tanpa kepastian.
Kuasa hukum korban, Aras, mengatakan pihaknya sebenarnya telah memberikan berbagai informasi penting kepada penyidik, mulai dari identitas terduga pelaku hingga lokasi kendaraan. Menurut dia, lambatnya penanganan justru menjadi persoalan utama dalam kasus tersebut.
“Kita dari pihak pelapor sudah menunjukkan rumah pelakunya, motornya juga ada. Tinggal diambil. Tapi sampai hari ini prosesnya sudah hampir enam bulan,” kata Aras.
Aras menduga motor milik Nazmin diambil tanpa izin oleh pria berinisial G, lalu digadaikan kepada perempuan berinisial H sebelum akhirnya diduga kembali dijual kepada pihak lain. Meski demikian, ia menyebut proses hukum berjalan lambat hingga video keluhan korban viral di media sosial.
“Setelah viral, baru kami dihubungi lagi oleh penyidik untuk pemeriksaan tambahan,” ujarnya.
Kasus ini kembali memunculkan sorotan terhadap penanganan laporan pencurian kendaraan bermotor yang kerap dikeluhkan masyarakat karena berjalan lama. Di sisi lain, media sosial kini semakin sering menjadi ruang terakhir warga mencari perhatian publik ketika proses hukum dinilai mandek.
Nazmin dan kuasa hukumnya kini meminta perkara tersebut tetap diproses hingga pengadilan tanpa penyelesaian damai. Selain kehilangan motor, korban mengaku mengalami kerugian sekira Rp30 juta, termasuk dokumen penting yang tersimpan di dalam bagasi kendaraan dan belum ditemukan hingga sekarang. [TIA]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami














