GERAKAN “sujud freestyle” kini bukan hanya muncul di layar media sosial. Di Bontang, tren itu mulai terlihat di sekolah, lingkungan rumah, bahkan di area masjid saat salat berjamaah. Pelakunya mayoritas anak usia sekolah dasar (SD) yang meniru aksi viral tanpa memahami risiko cedera di baliknya.
Fenomena tersebut memicu kekhawatiran masyarakat. Gerakannya dilakukan dengan kepala menjadi tumpuan tubuh sambil kedua kaki diangkat ke atas. Sekilas terlihat seperti tantangan biasa. Namun posisi leher dan kepala yang menopang berat badan dinilai berbahaya jika dilakukan tanpa teknik dan pengawasan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang pun turun tangan. Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, mengatakan pihaknya segera meminta seluruh sekolah meningkatkan pengawasan terhadap siswa agar tren itu tidak meluas.
“Saya akan langsung sampaikan ke setiap kepala sekolah di Bontang untuk menyikapi tren berbahaya ini, sambil menunggu surat edaran resmi kami terbitkan,” ujar Abdu Safa, Jumat (8/5/2026).
Menurut dia, anak-anak cenderung mudah mengikuti tantangan yang sedang viral karena dianggap menyenangkan dan mendapat perhatian dari teman sebaya. Padahal, risiko dari aksi tersebut tidak ringan.
“Kalau jatuh, risikonya berat. Bisa menyebabkan cedera serius bahkan meninggal dunia,” katanya.
Abdu Safa menilai sekolah tidak cukup hanya melarang. Guru diminta aktif menjelaskan dampak dari tren berbahaya yang banyak muncul di media sosial. Sebab, sebagian anak mengikuti tantangan hanya karena rasa penasaran dan ingin dianggap berani.
“Anak-anak ini cenderung ikut-ikutan tanpa memahami risikonya. Di sinilah pentingnya peran guru untuk memberi pemahaman, mana aktivitas yang aman dan mana yang berbahaya,” ujarnya.
Fenomena tantangan viral yang ditiru anak-anak sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai tren media sosial kerap memicu perilaku berisiko di kalangan pelajar, mulai dari aksi ekstrem hingga permainan yang membahayakan fisik. Kemudahan akses video pendek membuat tren semacam itu cepat menyebar dan mudah ditiru.
Disdikbud Bontang juga meminta orangtua tidak hanya mengandalkan pengawasan sekolah. Sebab sebagian besar aktivitas anak berlangsung di luar jam belajar. Orang tua diminta lebih peka terhadap tontonan dan aktivitas yang sedang diikuti anak sehari-hari.
“Guru hanya bisa mengawasi saat di sekolah. Selebihnya, peran orang tua sangat penting untuk memastikan anak tidak mengikuti tren berbahaya,” tegas Safa Muha. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami















