KOMITMEN menjaga adat dan warisan budaya di Kutai Barat (Kubar) kembali menuai pengakuan nasional. Mantan Bupati Kubar sekaligus tokoh masyarakat Kubar, Ismail Thomas, dianugerahi penghargaan Anugerah Naga Sasra oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Award Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI).
Penghargaan ini diberikan kepada figur yang dinilai memiliki dampak besar terhadap ruang ekspresi kebudayaan di daerahnya. Di Kutai Barat, nama Ismail Thomas dinilai konsisten berada di garis depan dalam menjaga denyut budaya lokal tetap hidup.
Bukan hanya mendukung acara adat. Ia juga dianggap aktif membuka ruang bagi para pelaku seni, budayawan, hingga pelestari tradisi untuk terus berkarya.
Yang menarik, perhatian besar juga diberikan pada pelestarian tosan aji atau benda pusaka tradisional, termasuk Mandau yang menjadi identitas masyarakat Dayak.
Ketua Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar, Waluyo Dwi Atmojo Setiobroto, mengatakan pelestarian pusaka bukan hanya menjaga benda fisik.
Lebih dari itu, ada nilai sejarah dan identitas budaya yang dipertaruhkan.
“Ketika pusaka dilestarikan, yang sesungguhnya dijaga bukan hanya bendanya, melainkan ingatan kolektif, jati diri, dan akar budaya bangsa agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Waluyo.
Modernisasi perlahan mulai menggerus minat generasi muda terhadap seni pembuatan Mandau. Mulai dari teknik menempa besi, membuat kumpang atau sarung Mandau, hingga seni ukir tradisional kini semakin sedikit peminatnya.
Kondisi itu menjadi perhatian serius Ismail Thomas. Dia menegaskan budaya harus menjadi arah utama pembangunan generasi muda.
“Budaya adalah kemudi sebuah peradaban. Jika kita membiarkan Mandau dan tradisi leluhur kita punah, kita sedang menghapus jejak sejarah kita sendiri di masa depan,” tegasnya.
Bukan hanya menyampaikan kekhawatiran, Ismail Thomas juga menyiapkan langkah konkret.
Ia merancang program pelestarian terpadu yang melibatkan para pande besi, pengrajin kumpang, hingga pembuat hulu atau gagang Mandau agar dapat bekerja dalam satu ekosistem budaya.
Rencananya, kawasan enam Lamin di Taman Budaya Sendawar (TBS) akan dimanfaatkan sebagai pusat aktivitas budaya dan basecamp pelestarian Mandau.
Di tempat itu nantinya akan digelar pelatihan dan bimbingan teknis rutin untuk anak muda Kutai Barat. Sebab tanpa regenerasi, Mandau hanya akan menjadi pajangan museum. Bukan lagi bagian hidup masyarakat Dayak.
Tim penilai dari Kementerian Kebudayaan RI dan SNKI menilai langkah-langkah tersebut menjadi salah satu alasan kuat Ismail Thomas layak menerima Anugerah Naga Sasra.
Selain menjaga budaya, berbagai agenda kebudayaan yang didukungnya juga dinilai mampu menggerakkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Momentum penghargaan ini diharapkan menjadi energi baru bagi masyarakat Kutai Barat untuk menjaga adat tetap hidup di tengah arus zaman yang terus berubah. [RIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















