PEMERINTAH Kota Bontang tampaknya sadar satu hal penting: menjaga “mesin paling bawah” pemerintahan jauh lebih penting dibanding mempertahankan proyek yang belum mendesak.
Karena itu, di tengah ancaman penurunan APBD 2027, Pemkot memilih mempertahankan insentif pengurus RT sebesar Rp4 juta per bulan.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, memastikan insentif ketua RT, sekretaris, dan bendahara RT tetap berjalan penuh.
“RT tidak lagi leha-leha. Insentif mereka tidak dipangkas, tetapi tugasnya semakin berat dan harus dijalankan,” kata Neni.
Pemkot kini menuntut RT bekerja lebih jauh dari sekadar urusan administrasi lingkungan. Mereka diminta menjadi mata dan telinga pemerintah di tengah masyarakat.
Mulai dari mendata warga miskin ekstrem, keluarga rentan miskin, persoalan sosial, hingga membantu penanganan stunting.
Bontang sedang menghadapi tekanan anggaran. Pemerintah mulai menghitung ulang prioritas pembangunan. Proyek infrastruktur besar yang sebelumnya direncanakan lewat APBD kini diarahkan mencari bantuan keuangan provinsi maupun dana APBN.
Artinya, ruang fiskal daerah tidak lagi selonggar sebelumnya. Namun di tengah keterbatasan itu, RT justru diposisikan sebagai ujung tombak.
Bukan hanya soal pendataan. RT juga diminta aktif memobilisasi warga menjaga kebersihan lingkungan, menggerakkan posyandu, hingga mempercepat laporan persoalan sosial sebelum membesar.
“RT harus bisa memobilisasi warga untuk menjaga kebersihan lingkungan dan peduli terhadap stunting dengan mengajak anak-anak datang ke posyandu,” sambung Neni.
Yang menarik, keputusan mempertahankan gaji RT ternyata tidak murah. Total anggaran insentif RT di Bontang mencapai sekitar Rp1,9 miliar per bulan atau hampir Rp24 miliar per tahun.
Angka itu cukup besar di tengah ancaman penurunan pendapatan daerah.
Karena itu, Pemkot mulai memangkas pos lain yang dianggap kurang prioritas. Perjalanan dinas dikurangi. Kegiatan seremonial dibatasi. Bimbingan teknis atau bimtek ikut direm.
Namun keputusan mempertahankan insentif RT juga bisa dibaca sebagai langkah politis dan sosial.
RT adalah struktur paling dekat dengan warga. Mereka bersentuhan langsung dengan persoalan sehari-hari masyarakat. Dari data bantuan sosial, konflik lingkungan, hingga kondisi warga miskin.
Jika RT melemah, efeknya bisa langsung terasa ke bawah. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















