MIAMI Stadium bersiap saksi bisu bentrok bertensi tinggi. Dua kekuatan Eropa, Inggris dan Norwegia, bakal saling sikut demi satu tiket semifinal dalam laga perempat final Piala Dunia 2026, Minggu (12/7/2026) dini hari pukul 05.00 WITA.
Sinar lampu stadion di Amerika Serikat ini akan menyorot tajam sejarah panjang kedua tim. Di atas kertas, Harry Kane dan kolega membawa modal kepercayaan diri yang melambung tinggi berkat dominasi historis mereka atas sang lawan.
Catatan 11v11 mengonfirmasi superiority armada Tiga Singa. Dari 12 pertemuan yang pernah tercipta sepanjang sejarah, Inggris sukses mencaplok tujuh kemenangan, tiga kali imbang, dan baru dua kali dipaksa bertekuk lutut oleh Norwegia.
Ditambah lagi, gelontoran 24 gol ke gawang tim Skandinavia tersebut menjadi bukti betapa mengerikannya lini serang Inggris tiap kali bersua The Vikings.
Namun, sepak bola modern tak pernah memenangkan masa lalu. Norwegia datang ke Miami bukan untuk menyerah pada statistik, melainkan untuk meruntuhkan tembok kutukan yang sudah bertahan selama lebih dari tiga dekade.
Inggris wajib waspada jika tidak ingin mengulangi memori kelam pada 2 Juni 1993. Kala itu, dalam kualifikasi Piala Dunia 1994 di Ullevaal Stadium, publik Oslo bersorak saat Oyvind Leonhardsen dan Lars Bohinen menjebol gawang Inggris tanpa ampun.
Laga berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan Norwegia, sebuah luka yang menutup jalan Inggris ke putaran final saat itu.
Menariknya, sejak malam kelabu 33 tahun lalu tersebut, Norwegia seperti kehilangan tajinya di hadapan Inggris. Dalam empat bentrokan terakhir, The Vikings bahkan mandul dan gagal melesakkan satu gol pun ke jala Tiga Singa.
Bagi Inggris, rekor mentereng masa lalu—termasuk kemenangan telak 6-0 pada tahun 1937 silam—hanyalah coretan di buku sejarah. Laga di Miami akhir pekan ini menuntut konsentrasi penuh selama 90 menit, atau bahkan lebih.
Lini belakang Inggris yang digalang John Stones akan mendapat ujian terberatnya tahun ini. Menghentikan agresivitas barisan depan Norwegia yang kini dihuni talenta-talenta kelas dunia menjadi harga mati jika mereka ingin memulangkan trofi sepak bola ke tanah Britania.
Akankah dominasi Inggris terus berlanjut di tanah Amerika, atau justru Norwegia yang berhasil menciptakan sejarah baru sekaligus membalas dendam usai puasa kemenangan puluhan tahun? Jawabannya akan tersaji di lapangan hijau. (*)















