SEBUAH tonjolan cor bekas galian proyek pipa air baku di Jalan S Parman, tepat di depan Pasar Gunung Telihan, menjadi ancaman bagi pengguna jalan. Dalam beberapa waktu terakhir, sedikitnya tiga pengendara sepeda motor dilaporkan terjatuh setelah melintas di lokasi tersebut.
Kondisinya semakin mengkhawatirkan karena tonjolan berada di bahu jalan dan dekat tikungan. Pada malam hari, minimnya penerangan membuat pengendara sulit menyadari keberadaan cor yang menonjol itu.
Kepala Seksi Pemerintahan dan Ketertiban Kelurahan Gunung Telihan, Ramli, mengatakan posisi tonjolan sudah melewati batas bahu jalan sehingga sangat berisiko bagi kendaraan yang melintas.
“Posisinya sangat membahayakan karena masuk ke bahu jalan. Sudah tiga kali pengendara motor jatuh akibat tonjolan itu,” ujar Ramli, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, insiden terbaru terjadi, Kamis (9/7/2026) malam. Seorang warga RT 15 dilaporkan terjatuh setelah motornya menghantam tonjolan cor tersebut.
Ramli mengaku pihak kelurahan hingga kini belum dapat memastikan siapa yang bertanggung jawab memperbaiki kondisi itu. Belum diketahui apakah pekerjaan proyek telah diserahterimakan kepada PDAM Tirta Taman atau masih menjadi kewajiban kontraktor pelaksana.
“Kami belum tahu harus melapor ke mana. Kalau sudah diserahkan ke PDAM tentu akan kami sampaikan ke sana. Tapi kalau masih tanggung jawab kontraktor, harus segera ditindaklanjuti,” katanya.
Meski status pekerjaan belum jelas, Ramli menegaskan keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Ia berharap persoalan administratif tidak menghambat penanganan di lapangan.
“Jangan sampai kegiatan pemerintah justru menyulitkan masyarakat. Kasihan warga kalau dibiarkan terus seperti ini,” ujarnya.
Malam Hari Jadi Waktu Paling Berbahaya
Menurut Ramli, risiko kecelakaan meningkat ketika malam tiba. Selain kondisi jalan yang gelap, posisi tonjolan berada tepat di tikungan sehingga sulit terlihat oleh pengendara yang melintas.
“Kalau malam itu paling rawan. Gelap dan posisinya di tikungan, jadi sering tidak terlihat,” ungkapnya.
Sebagai langkah darurat, pihak kelurahan memasang penanda sederhana berupa ranting daun dan jerigen di sekitar lokasi agar pengguna jalan lebih waspada.
Namun, upaya tersebut hanya bersifat sementara. Kelurahan berharap pihak yang bertanggung jawab segera melakukan perbaikan permanen agar tidak ada lagi warga yang menjadi korban.
“Harapan kami segera ditangani. Jangan sampai ada korban lagi,” pungkas Ramli. (*)
















