HARAPAN baru bagi pertumbuhan ekonomi Kutai Timur (Kutim) mulai terlihat dari kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Bukan hanya menyimpan kekayaan alam dan jejak peradaban manusia purba, kawasan ini juga dinilai mampu membuka lebih banyak peluang usaha bagi masyarakat.
Keyakinan itu disampaikan Tim Verifikasi Geopark Nasional yang tengah melakukan penilaian lapangan. Mereka melihat geliat pariwisata mulai memunculkan efek berantai, mulai dari berkembangnya UMKM hingga lahirnya berbagai layanan penunjang wisata.
Ketua Tim Verifikasi Geopark Nasional, Prof. Mega Fatimah Rosana, mengatakan manfaat pengembangan geopark kini sudah mulai dirasakan masyarakat sekitar.
“Selain aspek konservasi, manfaat ekonomi dari pengembangan geopark sudah dirasakan masyarakat, salah satu indikatornya yakni dengan bertumbuhnya pelaku UMKM di sekitar kawasan,” ujarnya saat verifikasi lapangan di Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Kamis (9/7/2026).
Verifikasi berlangsung selama lima hari, sejak 6 hingga 10 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses penilaian untuk memperoleh status Geopark Nasional.
Salah satu lokasi yang dikunjungi tim adalah Goa Mengkuris, situs yang menyimpan lukisan telapak tangan prasejarah dan menjadi salah satu ikon penting kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat.
Prof. Mega menilai sejumlah geosite telah memberi dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.
Di Galeri Cagar Budaya, misalnya, wisata sejarah dan arkeologi berkembang menjadi ruang ekonomi baru. Aktivitas tersebut mendorong munculnya pemandu wisata, penyelenggara kegiatan budaya, hingga pelaku usaha yang memasarkan produk kreatif.
Sementara Geosite Tangga Bidadari berkembang sebagai destinasi wisata alam berbasis geologi. Kawasan ini juga menjadi lokasi penelitian sekaligus edukasi mengenai formasi batuan purba.
Tak kalah menarik, Goa Mengkuris kini semakin dikenal sebagai tujuan wisata karst dan jelajah sungai. Kondisi itu membuka peluang usaha baru, mulai dari penyewaan perlengkapan, jasa pemandu caving, hingga paket wisata terpadu.
Berkembangnya sektor wisata turut mengangkat produk-produk khas Kutai Timur.
Beragam UMKM mulai berkembang, seperti amplang Bengalon, pisang kepok Grecek Kaliorang, kue Beppa Janda, aneka olahan ikan lokal, kerajinan anyaman bambu dan kayu, kain tenun khas, hingga suvenir bertema geopark serta budaya Basap dan Kutai.
Pertumbuhan itu juga diikuti meningkatnya kebutuhan layanan wisata, seperti homestay, transportasi antargeosite, jasa fotografi, hingga penyewaan perlengkapan wisata.
Menurut Prof. Mega, perpaduan kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya menjadikan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memiliki nilai yang sulit ditemukan di banyak daerah lain.
Meski memiliki potensi besar, Prof. Mega menilai penguatan identitas kawasan menjadi pekerjaan penting berikutnya.
Ia mengusulkan agar ilustrasi telapak tangan prasejarah Goa Mengkuris digunakan sebagai identitas visual pada kemasan produk UMKM. Kemasan tersebut dapat dilengkapi informasi singkat mengenai Geopark Sangkulirang-Mangkalihat beserta tagline khusus yang mudah dikenali.
Menurutnya, langkah sederhana itu mampu meningkatkan nilai jual produk sekaligus menjadi media promosi yang memperkenalkan geopark kepada wisatawan.
“Strategi branding yang kuat akan menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing geopark, baik di tingkat nasional maupun internasional, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan,” katanya. (*)

















