TIM Verifikasi Geopark Nasional resmi memulai penilaian lapangan untuk menguji kelayakan kawasan eksotis ini naik kelas menjadi Geopark Nasional. Titik mula pengujian ini bukan di tengah hutan, melainkan di Galeri Cagar Budaya Kutai Timur, Selasa (7/7/2026).
Di gedung yang kini menjadi Pusat Informasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat tersebut, para verifikator langsung dihadapkan pada bukti-bukti mencengangkan tentang peradaban purba nusantara.
Kawasan ini bukan sekadar hamparan batu kapur raksasa yang memanjakan mata. Di balik dinding-dinding gua yang sunyi, tersimpan romansa sekaligus misteri perjalanan panjang umat manusia.
Perhatian tim verifikasi tersedot pada replika dan data dari Liang Jon. Di gua inilah archeolog menemukan empat kerangka manusia purba dalam kondisi yang relatif utuh.
“Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa wilayah Sangkulirang-Mangkalihat telah dihuni sejak zaman prasejarah,” ujar Andika Arif dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kaltim saat memberikan paparan.
Jejak eksistensi mereka kian nyata lewat lukisan cap tangan purba berwarna kemerahan yang menghiasi dinding gua. Sejauh ini, otoritas setempat mencatat ada 47 situs cagar budaya yang tersebar di sepanjang kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat. Batuan mineral yang dahulu dipakai nenek moyang sebagai pewarna alami lukisan cadas itu pun tersimpan rapi di galeri ini.
Bagi masyarakat Kutai Timur, status geopark bukan hanya soal menjaga batuan mineral atau fosil satwa prasejarah. Ini adalah cerita tentang manusia yang hidup berharmoni dengan alamnya selama berabad-abad.
Makmur, Pengelola Cagar Budaya Kutai Timur, menegaskan galeri yang berdiri sejak 2008 ini menjadi jembatan edukasi bagi publik. Pengunjung bisa melihat langsung koleksi etnografi Suku Dayak Wehea dan Suku Basap yang mendiami wilayah Merabu, Kaliorang, hingga Karangan.
Nilai humanis ini kian kental lewat pajangan artefak tradisi Mengayau masa lampau, pakaian adat, hingga lukisan ritual Belian—upacara pengobatan magis Dayak yang kini diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Seluruh kekayaan sejarah ini menjadi modal utama Kutai Timur. Pemerintah daerah berharap, gambaran utuh dari pusat informasi ini mampu memuluskan langkah Sangkulirang-Mangkalihat meraih sertifikasi nasional.
Target besarnya jelas tidak main-main. Langkah ini merupakan batu loncatan awal sebelum mereka membawa keajaiban alam dan budaya Kaltim ini menuju panggung internasional: UNESCO Global Geopark. (*)


















