SUARA mantra dan tetabuhan magis yang menggema selama tujuh hari tujuh malam di pesisir Kutai Timur (Kutim) kini bersiap naik kelas ke panggung nasional. Ritual adat Belian Semegah, tradisi turun-temurun masyarakat Kutai di Desa Sekerat, kini resmi memasuki tahap penilaian akhir untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia.
Langkah besar ini diambil setelah tim verifikasi lapangan dari Kementerian Kebudayaan turun langsung ke lokasi. Mereka memeriksa, mencatat, dan menyidangkan kelayakan ritual sakral ini agar mendapatkan pengakuan resmi dari negara.
Kepala Desa Sekerat, Sunan Dhika, tidak bisa menyembunyikan rasa harapnya agar identitas leluhur mereka mendapat tempat di lembar sejarah nasional.
“Sudah diverifikasi dan disidangkan. Mudah-mudahan bisa segera ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda,” ujar Sunan dengan nada optimistis.
Selama ini, ritual Belian Semegah menjadi ruh utama dalam gelaran tahunan Festival Sekerat Nusantara. Prosesinya bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Ritual ini menuntut stamina dan keteguhan spiritual yang luar biasa, karena berlangsung tanpa putus selama seminggu penuh dengan tahapan ritual yang berbeda setiap malamnya.
Bagi warga setempat, tradisi ini adalah jangkar sejarah. Namun, Sunan jujur mengakui ada kecemasan yang membayangi di balik megahnya upacara adat. Minat generasi muda terhadap hal-hal berbau mistis-tradisional kian terkikis oleh gempuran zaman.
Tantangan inilah yang membuat pemerintah desa memutar otak. Mereka sadar, membiarkan anak-anak muda menjauh sama saja dengan menjemput kepunahan tradisi.
“Anak-anak muda sengaja kami libatkan langsung. Tujuannya agar mereka mengenal dan ikut memikul tanggung jawab menjaga tradisi ini,” kata Sunan.
Strateginya kini berubah. Festival dikemas lebih modern dan dinamis demi memikat mata generasi Z, namun dengan satu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
“Kami ingin kemasannya lebih menarik, tetapi nilai sakralnya sama sekali tidak boleh hilang,” tegasnya.
Setiap malam dalam ritual Belian Semegah menyimpan filosofi mendalam bagi kehidupan masyarakat Kutai. Puncaknya ditandai dengan prosesi yang menguras emosi dan spiritual warga: ritual Mengolor Perahu Naga.
Dalam prosesi ini, sebuah replika perahu naga diarak beramai-ramai. Perahu ini bukan simbol kemeriahan, melainkan lambang wadah penampung segala petaka, penyakit, dan kemalangan yang ada di daratan.
Melalui doa-doa yang dipanjatkan para tetua adat, perahu tersebut kemudian dilarung dari tepi pantai menuju laut lepas. Sebuah simbolisme kuat tentang harapan agar kampung halaman mereka senantiasa dibersihkan dari marabahaya dan dilimpahi keselamatan.
Pengakuan sebagai WBTb Indonesia nantinya bukan sekadar sertifikat di atas kertas. Bagi Desa Sekerat, status ini adalah modal besar untuk memetakan masa depan pariwisata mereka.
Selama ini, wisatawan mengenal Sekerat karena keindahan garis pantainya. Ke depan, pemerintah desa ingin menyatukan pesona alam tersebut dengan magisnya petualangan budaya yang tidak akan bisa ditemukan di sudut lain Kutai Timur. (*)



















