DI TENGAH mesin industri pertambangan yang mengepung wilayah sekitarnya, sebuah benteng hijau di Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur, masih kokoh berdiri. Di sinilah letak jantung dari gugusan karst kuno Sangkulirang-Mangkalihat yang sedang bertarung merebut status Geopark Nasional.
Tim Verifikasi Geopark Nasional menginjakkan kaki di desa ini, Selasa, 7 Juli 2026. Mereka datang bukan sekadar menilai batuan, melainkan menyaksikan bagaimana sebuah komunitas lokal menolak tunduk pada eksploitasi demi menjaga warisan peradaban manusia.
Fokus utama tim verifikator tertuju pada kawasan Gunung Gergaji, rumah bagi Goa Tewet yang legendaris. Goa ini menyimpan misteri besar berupa lukisan cap tangan prasejarah, sebuah coretan dinding purba yang diakui sebagai aset budaya kelas dunia.
Menjaga situs ini bukan perkara mudah karena wilayahnya beririsan langsung dengan aktivitas tambang. Namun, komitmen masyarakat setempat rupanya jauh lebih keras daripada batuan karst itu sendiri.
“Kami membentuk pos jaga hutan secara swadaya,” ujar Kepala Desa Tepian Langsat, Zeky Hamzah, saat memaparkan upaya pelestarian di desanya.
Zeky menegaskan, warga ingin warisan tak ternilai ini tetap utuh untuk generasi mendatang. Pemerintah desa bahkan mengusulkan agar kawasan karst ini segera ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung agar memiliki payung hukum yang kuat.
Bagi mereka, Goa Tewet bukan komoditas pariwisata massal yang bisa dijual murah. Pengembangannya dirancang dengan konsep wisata minat khusus berbasis konservasi yang ketat.
“Ini aset budaya kelas dunia, pengembangannya harus mengutamakan pelestarian, bukan sekadar mengejar angka kunjungan wisatawan,” kata Zeky.
Cerita humanis juga datang dari keluarga penemu goa ini. Cucu dari Pak Tewet, sang penemu awal, hadir menceritakan kembali momen emosional pada tahun 1964 silam.
Kala itu, sang kakek masuk ke dalam hutan lebat untuk berburu dan mencari sarang burung walet. Tanpa sengaja, ia menemukan mulut goa yang di dalamnya tersimpan jejak jari-jemari manusia purba ribuan tahun lalu.
Kini, Goa Tewet menjadi satu dari enam destinasi wisata yang sedang dikembangkan di Tepian Langsat. Desa ini juga menyiapkan Gunung Kendoyan yang berketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut untuk jalur pendakian ramah lingkungan.
Sembari menjaga alam, denyut ekonomi warga mulai berputar melalui galeri desa di Pusat Informasi Geopark. Warga memamerkan amplang Bengalon yang gurih hingga replika suvenir lukisan cap tangan purba.
Melalui tagline “Bumi Kita, Warisan Kita”, warga Tepian Langsat sedang mengirim pesan kuat ke seluruh negeri. Mereka membuktikan bahwa menjaga warisan leluhur bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan perut. (*)

















