KARST Sangkulirang-Mangkalihat sedang bersolek. Kawasan purba raksasa di Kutai Timur, Kalimantan Timur ini tengah gencar diverifikasi demi meraih status prestisius sebagai taman bumi atau geopark yang diakui dunia.
Namun, di balik gempita penilaian tersebut, sebuah luka besar tersembunyi di Desa Selangkau, Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur. Goa Segegeh, salah satu sudut magis yang dulu menjadi kebanggaan warga, kini telah hilang dari peta bumi—rata dengan tanah.
Goa yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Pantai Jepu-Jepu ini terbentuk dari batuan gamping khas karst Sangkulirang-Mangkalihat. Sebelum tahun 2020, tempat ini adalah oase tersembunyi. Wisatawan kerap datang untuk menikmati ketenangan alam dan kesegaran sumber mata airnya yang terkenal jernih sekaligus dingin.
Digilas Industri, Tersisa di Memori Warga
Petaka bagi kelestarian alam ini dimulai ketika aktivitas industri berskala besar masuk ke wilayah tersebut. Kehadiran pabrik semen PT Kobexindo Cement secara perlahan menggerus habis seluruh struktur Goa Segegeh hingga tak bersisa.
Kini, tempat liburan favorit warga lokal itu bukan sekadar kehilangan pesonanya, melainkan benar-benar musnah secara fisik. Para penggiat wisata bahkan mulai melupakan namanya.
Saat tim verifikasi geopark hilir mudik memeriksa keindahan alam Sangkulirang-Mangkalihat, nama Goa Segegeh hanya bisa meluncur dari mulut ke mulut. Warga Desa Selangkau menuturkannya dengan nada getir, sebatas cerita pengantar tidur tentang tempat indah yang pernah mereka miliki.
Absen dari Agenda Pemerintah
Musnahnya Goa Segegeh memicu sorotan terhadap komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Minimnya pengawasan, penjagaan, dan ketegasan dalam pelestarian lingkungan dinilai menjadi penyebab utama cagar alam ini dengan mudah ditumbalkan demi industri.
Ironisnya, dalam agenda penilaian geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang sedang berjalan, tim verifikator hanya dijadwalkan mengunjungi Air Terjun Tangga Bidadari.
Situs Goa Segegeh yang telah hancur total itu dilewati begitu saja, tanpa ada rencana peninjauan ataupun evaluasi mendalam.
Goa indah itu kini resmi menjadi tumbal modernisasi, meninggalkan tanda tanya besar: seberapa mahal harga yang harus dibayar alam demi sebuah pertumbuhan ekonomi? (*)

















