MENJADI seorang mualaf bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Perjalanan spiritual ini kerap diikuti oleh guncangan hebat dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Banyak dari mereka yang harus memulai segalanya dari nol, kerap kali tanpa dukungan keluarga lama. Sadar akan beratnya fase transisi ini, Badan Amil Zakat Nasional alias Baznas Bontang memilih tidak tinggal diam.
Baznas Bontang hadir untuk mendekap erat para mualaf lewat program pendampingan khusus yang berjalan intensif selama dua tahun.
Ketua Baznas Bontang, Kuba Siga, menegaskan bahwa pihaknya tidak memakai metode seragam dalam mendampingi para mualaf. Setiap individu yang datang membawa cerita dan beban hidup yang berbeda.
“Setiap mualaf punya kebutuhan yang berbeda. Kami tidak menyamaratakan. Kami lihat dulu apa yang paling mereka butuhkan,” kata Kuba saat berbincang dengan Pranala.co, Rabu, 8 Juli 2026.
Langkah ini selaras dengan regulasi Baznas pusat, namun eksekusinya di lapangan dibuat jauh lebih humanis. Fokus utama mereka adalah membaca situasi ril yang dihadapi setiap mualaf.
Dari peta masalah yang ada, urusan isi dompet sering menjadi badai pertama yang dihadapi para mualaf. Untuk itu, Baznas Bontang langsung tancap gas memberikan program pemberdayaan produktif. Bantuan yang mengalir bukan sekadar sembako untuk konsumsi harian.
“Kami arahkan bagaimana bantuan itu bisa membuka peluang usaha dan meningkatkan keterampilan mereka,” tutur Kuba. Harapannya besar, mereka bisa segera mandiri secara finansial.
Namun, urusan perut tentu harus sejalan dengan ketenangan batin. Bagi mualaf yang masih meraba-raba dalam memahami Islam, Baznas langsung menjembatani mereka dengan tokoh agama yang kompeten.
Proses belajar mengaji dan memperdalam fiqih pun berjalan terarah, pelan tapi pasti. “Jadi mereka tidak merasa berjalan sendiri,” tambahnya.
Dalam hukum Islam, mualaf merupakan satu dari delapan golongan (asnaf) yang wajib menerima zakat. Kuba menegaskan, hal inilah yang menjadi motor penggerak tanggung jawab moral Baznas Bontang.
Saat ini, ada sekira 10 mualaf yang aktif dalam radar pendampingan intensif mereka. Mayoritas merupakan rujukan dari masjid-masjid setempat dengan latar belakang masalah ekonomi yang mendesak.
Angka 10 orang mungkin terdengar kecil untuk sebuah kota. Namun, Kuba menjelaskan bahwa ini adalah bentuk sinergi yang sehat di Bontang.
“Banyak juga lembaga lain dan masjid yang turut membantu. Kami ini hanya salah satu bagian dari upaya bersama,” jelasnya dengan rendah hati.
Lewat pelukan hangat yang personal dan berkelanjutan ini, mualaf di Bontang diharapkan tidak hanya mantap dalam keyakinan barunya, tetapi juga tegak berdiri sebagai pribadi yang mandiri. (*)


















