SUASANA ruang tunggu RSUD Taman Husada Bontang mendadak riuh, Sabtu, 4 Juli 2026. Ada raut tegang, tangis tipis, namun tidak sedikit pula tawa ceria yang terpancar dari wajah ratusan anak. Hari itu, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bontang kembali menggelar agenda tahunan yang paling dinanti masyarakat: khitanan massal gratis.
Tahun ini, sebanyak 450 anak dari berbagai sudut kota mendaftarkan diri. Program sosial yang telah konsisten berjalan selama satu dekade tersebut menjadi penyelamat bagi banyak keluarga kurang mampu. Hanya saja, di balik tingginya antusiasme warga, ada realita pahit yang harus dihadapi pihak penyelenggara terkait keterbatasan ruang dan anggaran.
Kepala Baznas Bontang, Kuba Siga, mengakui bahwa minat masyarakat untuk mendaftarkan anak-anak mereka sebenarnya jauh melampaui kuota yang tersedia. Namun, pihaknya harus memutar otak karena keterbatasan dana kelolaan yang bersumber dari zakat umat.
“Antusias masyarakat sangat besar. Tapi kami menyesuaikan dengan kemampuan dana yang ada, karena ini berasal dari zakat umat yang harus dikelola secara amanah,” ujar Kuba Siga di sela-sela memantau jalannya acara.
Guna menyiasati membeludaknya peserta, pelaksanaan khitanan massal kali ini dibagi ke dalam tiga titik rumah sakit demi menjaga kenyamanan anak-anak. Hari pertama pelaksanaan dipusatkan di RSUD Taman Husada dengan merawat 250 peserta. Sementara sisanya, masing-masing sebanyak 150 anak, dijadwalkan menyusul di RSI Yabis dan RS Amalia.
Agar anak-anak tidak dirundung rasa takut sebelum masuk ruang tindakan, panitia mengemas acara ini dengan konsep yang ramah anak. Setiap anak yang selesai dikhitan langsung dihadiahi paket bingkisan lengkap berisi pakaian, sarung, peci, makanan ringan, hingga uang santunan tunai sebesar Rp200 ribu. Langkah ini efektif mengubah ketegangan menjadi senyuman.
“Supaya anak-anak merasa senang dan tidak takut. Kami ingin momen ini jadi pengalaman yang membahagiakan bagi mereka,” tambah Kuba.
Hadir di tengah-tengah acara, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, memberikan pandangan mendalam mengenai pentingnya peran keluarga. Di depan para orang tua yang mengantar, Neni mengingatkan bahwa momentum khitanan ini juga menjadi pengingat eratnya tanggung jawab membesarkan anak.
“Ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Bagaimana anak tumbuh, sangat ditentukan oleh kasih sayang dan perhatian orang tua,” tutur Neni hangat.
Lebih lanjut, Neni mengupas khitan dari sudut pandang medis dan syariat Islam. Menurutnya, tindakan sunat bukan sekadar menggugurkan kewajiban tradisi atau ritual keagamaan semata, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan reproduksi anak laki-laki sejak usia dini.
“Kalau tidak disunat, bisa menjadi tempat menumpuknya kotoran dan berisiko menimbulkan penyakit. Jadi ini bukan hanya tradisi, tapi juga langkah menjaga kesehatan anak,” jelas Wali Kota Bontang tersebut.
Menangani ratusan anak dalam waktu singkat tentu bukan perkara mudah. Pihak RSUD Taman Husada Bontang bergerak cepat dengan memastikan seluruh standar pelayanan medis berjalan optimal tanpa cela.
Direktur RSUD Taman Husada, Suhardi, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim khusus yang terdiri dari sekitar 20 tenaga medis berpengalaman untuk mengawal jalannya acara dari pagi hingga selesai.
“Setiap anak ditangani dua tenaga medis agar prosesnya cepat dan tetap aman. Target kami hari ini semua selesai,” tegas Suhardi optimistis. Kerja sama tim yang solid ini membuat antrean panjang anak-anak bisa terurai dengan cepat tanpa mengabaikan aspek higienitas. [FR]















