KALTIM, Pranala.co – Dunia perbankan Kalimantan Timur (Kaltim) menggeliat. Per April 2025, pertumbuhan kredit perbankan di wilayah ini menembus angka 12,42 persen, menjadi yang tertinggi di Pulau Kalimantan. Angka ini melonjak dibandingkan capaian akhir 2024 yang “hanya” 8,92 persen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltim, Budi Widihartanto, menyatakan, pencapaian ini sekaligus mengukuhkan Kaltim sebagai “raja kredit” di kawasan Kalimantan dengan total pencairan mencapai Rp96 triliun.
“Pencairan kredit perbankan di Kaltim yang mencapai Rp96 triliun menjadi yang terbesar di regional Kalimantan,” ujar Budi dalam keterangan resmi, dikutip, Sabtu (24/5).
Tak hanya kuantitas, kualitas kredit pun patut diacungi jempol. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat hanya 1,85 persen, jauh di bawah batas aman 5 persen yang ditetapkan regulator. Hal ini menunjukkan, perbankan Kaltim tidak hanya agresif dalam menyalurkan kredit, tetapi juga prudent dalam mengelola risiko.
Meski pertumbuhan kredit secara umum melonjak, ada sisi lain yang perlu dicermati. Pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi proyek melambat drastis, dari 4,05 persen pada akhir 2024 menjadi hanya 0,11 persen per April 2025.
Budi menjelaskan, perlambatan ini bukan tanda negatif, melainkan efek logis dari berakhirnya beberapa megaproyek pemerintah dan swasta nasional pada akhir tahun lalu.
“Perlambatan ini disebabkan oleh selesainya beberapa proyek besar pemerintah dan swasta nasional pada akhir tahun lalu,” terangnya.
Meski demikian, nominal kreditnya tetap fantastis, mencapai Rp184,27 triliun dengan NPL terkendali di level 1,81 persen.
Optimisme Bank Indonesia tetap tinggi. Dengan berbagai strategi yang disiapkan, seperti kebijakan moneter yang lebih akomodatif, insentif kredit likuiditas makroprudensial, serta peningkatan koordinasi dengan lembaga keuangan lain. Pertumbuhan kredit di Kaltim tahun 2025 diprediksi akan sesuai target nasional sebesar 11 sampai 13 persen.
“Kami tidak hanya fokus pada volume, tetapi juga inovasi, seperti ekonomi hijau, keuangan syariah, dan inklusi keuangan,” kata Budi.
Dari sisi pengawasan, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Parjiman, mengungkapkan dinamika menarik dari berbagai sektor usaha selama Maret 2025 dibandingkan Desember 2024.
Sektor transportasi, logistik, dan komunikasi menjadi primadona dengan pertumbuhan 8,82 persen. Kredit di sektor transportasi naik dari Rp11,04 triliun menjadi Rp12,02 triliun. Di sisi lain, sektor pemilikan kendaraan bermotor mengalami kontraksi 3,94 persen, turun dari Rp2,36 triliun menjadi Rp2,27 triliun.
Sebuah fenomena unik juga terjadi pada sektor administrasi pemerintah yang melonjak tajam 39,04 persen, meskipun dari basis yang sangat kecil, yaitu naik dari Rp2,92 miliar menjadi Rp4,06 miliar.
Sektor pemilikan rumah tinggal mencatat pertumbuhan solid 3,62 persen, dengan nilai kredit naik dari Rp8,51 triliun menjadi Rp8,82 triliun. Sedangkan sektor real estate, sewa, dan jasa perusahaan tumbuh 2,01 persen, dari Rp4,63 triliun menjadi Rp4,72 triliun.
Secara keseluruhan, total kredit semua sektor meningkat tipis 0,51 persen dari Rp55,87 triliun menjadi Rp57,39 triliun pada periode tersebut. [ID/RIL]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















Comments 2