Pranala.co, BONTANG – Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat untuk daerah dipangkas besar-besaran. Jumlahnya mencapai 70 persen dari total penerimaan yang biasanya masuk ke kas kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
Kota Bontang menjadi salah satu yang terdampak. Nilainya tidak kecil. Sekitar Rp500 miliar hilang dari skema transfer sebelumnya.
Namun, kondisi itu tidak membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang patah semangat. Sebaliknya, target pendapatan daerah tahun depan justru dinaikkan menjadi Rp3,2 triliun.
“Kalau kita pasang target rendah, nanti hasilnya juga rendah. Kalau Rp3,2 triliun tidak tercapai, kita bisa jelaskan alasannya. Misalnya karena transfer atau DBH menurun,” ujar Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni belum lama ini.
Neni menegaskan, optimisme adalah kunci menghadapi keterbatasan fiskal. Dengan sikap itu, lahirlah inovasi untuk memaksimalkan sumber pendapatan daerah.
“Kalau dari awal pesimis, nanti tidak ada inovasi,” tambahnya.
Ia juga mengakui, pemangkasan DBH bukan hanya dialami Bontang. Hampir semua daerah di Indonesia ikut terdampak kebijakan pusat ini.
Meski anggaran transfer menyusut, sektor pendidikan dipastikan tetap aman. Anggaran pendidikan wajib dialokasikan minimal 20 persen sesuai undang-undang.
“Apalagi sekarang fungsi pendidikan lebih luas lagi,” jelas Neni.
Pemkot Bontang memastikan program pembangunan strategis tetap jalan. Termasuk proyek multiyears yang menyasar masalah banjir rob.
“Kalau proyek tiga tahun, target saya satu setengah tahun sudah bisa dinikmati masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, percepatan pengembangan Danau Kanaan juga masuk prioritas. Danau ini akan difungsikan ganda: sebagai sumber air bersih, destinasi wisata, pencegah banjir, sekaligus bagian dari wisata kota.
“Kalau Bontang tidak dipersiapkan dari sekarang, nanti terlambat. Mumpung ada program visi-misi, mudah-mudahan bisa terealisasi,” ucapnya.
Berbeda dengan daerah lain yang memilih menutup defisit dengan pinjaman, Bontang mengambil langkah berbeda.
“Kalau daerah lain kekurangan dana, mereka pinjam dari luar. Tapi Bontang tidak mau. Yang ada, kita manfaatkan dan maksimalkan,” tutup Neni. (DIAS)









