PENANGANAN stunting di Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kota Bontang, mulai bergerak dengan pola lebih terarah. Jika sebelumnya ketua RT hanya mengetahui jumlah kasus, kini mereka memegang data lengkap anak terdampak hingga nama dan alamatnya.
Perubahan itu membuat upaya penanganan tidak lagi berhenti pada angka statistik. Di lapangan, para ketua RT kini mengetahui siapa anak yang membutuhkan perhatian dan di mana mereka tinggal.
Lurah Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro, mengatakan selama ini keterbatasan akses data menjadi salah satu kendala dalam penanganan stunting di tingkat lingkungan RT.
Menurutnya, ketua RT hanya menerima informasi jumlah kasus tanpa mengetahui identitas anak yang masuk dalam kategori stunting.
“RT selama ini hanya tahu angka, tapi tidak tahu siapa anaknya dan di mana lokasinya. Itu yang membuat penanganan kurang maksimal,” ujar Elis.
Guna mengatasi persoalan tersebut, pihak kelurahan menjembatani kebutuhan data dengan mengelola informasi yang diperoleh dari Puskesmas.
Setelah dilakukan pertemuan dan penyusunan langkah penanganan bersama, data rinci by name by address (BNBA) kemudian dibagikan kepada masing-masing RT.
Dengan data itu, ketua RT dapat mengetahui secara pasti anak-anak yang memerlukan pendampingan dan intervensi gizi di wilayahnya.
“Setelah pertemuan, kami sampaikan data per RT, termasuk BNBA. Jadi mereka tahu persis siapa saja yang harus ditangani,” jelasnya.
Dampaknya langsung terlihat. Di RT 14, ketua RT bersama kader Posyandu dan tim Bangga Kencana segera melakukan verifikasi lapangan begitu menerima data tersebut.
Langkah itu dilanjutkan dengan pendampingan terhadap keluarga yang memiliki anak berisiko stunting maupun yang sudah masuk dalam kategori stunting.
Tak hanya mengandalkan program pemerintah, kepedulian warga juga mulai tumbuh.
Ketua RT bersama masyarakat setempat berinisiatif memberikan bantuan tambahan berupa susu dan makanan ringan sehat untuk membantu pemenuhan gizi anak-anak yang membutuhkan.
Upaya swadaya itu menjadi gambaran bahwa penanganan stunting tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan lingkungan terdekat.
Lurah Elis menegaskan peran kelurahan dalam program ini bukan sekadar memberikan arahan. Kelurahan juga menjadi penghubung antara pemegang data dan pihak yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Sebab, selama ini RT tidak memiliki akses langsung terhadap data yang berada di Puskesmas.
“Makanya kami fasilitasi. RT ini pemilik wilayah, tapi tidak punya akses data. Jadi kami jembatani dengan membagikan BNBA,” tegasnya.
Langkah tersebut diharapkan membuat penanganan stunting di Tanjung Laut Indah semakin cepat dan tepat sasaran. Ketika data berada di tangan orang yang mengenal wilayahnya dengan baik, bantuan dapat bergerak lebih cepat menuju anak-anak yang memang membutuhkan. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















