DERU mesin pesawat seakan kalah riuh dengan detak jantung ratusan orang di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan, Minggu (7/6/2026) malam. Tepat pukul 22.51 Wita, roda-roda burung besi yang membawa rombongan jemaah haji Kloter 1 Embarkasi Balikpapan akhirnya menyentuh landasan.
Begitu pintu pesawat terbuka, udara malam Kalimantan Timur (Kaltim) langsung menyambut 360 jemaah asal Samarinda. Tidak ada kata yang mampu mewakili perasaan mereka selain air mata. Di atas beton apron bandara, beberapa jemaah langsung bersujud, menempelkan kening mereka ke bumi sebagai tanda syukur yang teramat dalam setelah menuntaskan rukun Islam kelima.
Aroma minyak wangi khas Timur Tengah masih tercium samar dari pakaian para jemaah. Di antara kerumunan, tampak Adi, salah satu haji yang baru turun dari pesawat. Wajahnya lelah, namun binar matanya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang membuncah.
Menariknya, sebuah boneka unta berukuran sedang tampak melingkar jenaka di lehernya. Oleh-oleh khas Arab Saudi itu sengaja ia kalungkan, barangkali tak sabar ingin segera ia serahkan kepada cucu atau anak tercinta yang sudah berminggu-minggu menanti di rumah.
“Alhamdulillah, semuanya lancar. Pelayanannya juga sangat baik selama di sana,” kata Adi dengan suara yang agak serak, menahan haru karena bisa kembali dengan selamat.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Balikpapan, Suharto Baijuri, yang memimpin langsung penyambutan, menjelaskan bahwa seluruh rombongan ini merupakan kloter pertama yang mendarat. Mayoritas berasal dari Samarinda, ditambah dua orang jemaah dari Sulawesi Utara.
Dari bandara, seluruh jemaah tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Mereka dibawa menggunakan bus menuju Asrama Haji Embarkasi Balikpapan di Batakan untuk proses administrasi akhir dan serah terima resmi kepada Pemerintah Kota Samarinda.
Namun, di balik riuhnya pekik takbir dan tangis bahagia malam itu, ada duka mendalam yang menggelayut. Tanah Suci tahun ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sebagian jemaah yang berangkat dari Embarkasi Balikpapan.
Suharto mengungkapkan, hingga hari ini tercatat ada sembilan jemaah haji yang meninggal dunia di Arab Saudi. Kepergian mereka meninggalkan kekosongan di kursi pesawat yang seharusnya membawa mereka pulang malam ini.
“Untuk jemaah haji asal Kaltim yang meninggal dunia sebanyak enam orang. Dari Sulawesi Utara satu orang, Sulawesi Tengah satu orang, kemudian dari Kaltara satu orang. Jadi total yang wafat tahun ini berjumlah sembilan orang,” ujar Suharto.

Data Kemenhaj menunjukkan, mayoritas jemaah yang tutup usia merupakan kelompok berisiko tinggi (risti) dengan usia di atas 65 tahun. Faktor cuaca ekstrem dan kelelahan fisik diduga menjadi pemicu kambuhnya penyakit bawaan.
“Rata-rata karena penyakit jantung, gagal napas, dan hipertensi. Gejalanya hampir sama semuanya,” tambah Suharto. Dari sembilan jemaah yang berpulang, tiga di antaranya adalah perempuan dan enam lainnya laki-laki.
Kesedihan kian terasa ketika Suharto menyebutkan bahwa sebagian besar jemaah yang wafat justru belum sempat merasakan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Mereka dipanggil oleh Sang Pencipta saat kerinduan terhadap Baitullah sedang memuncak.
Meski keluarga di tanah air tidak bisa memeluk jasad mereka untuk terakhir kali, ada penghiburan spiritual yang mendalam. Seluruh jemaah yang wafat dipastikan dimakamkan di tempat yang sangat mulia bagi umat Islam.
“Insyaallah semuanya dimakamkan di Baqi, Arab Saudi,” pungkas Suharto, merujuk pada pemakaman bersejarah di Madinah yang menjadi tempat bersemayamnya para sahabat Nabi. [RUL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















