SEMANGAT ratusan santri memenuhi halaman Sekretariat BKPRMI Kota Bontang, Jumat (24/7/2026). Sebanyak 563 santri dari berbagai jenjang pendidikan Al-Qur'an resmi mengawali perjalanan mereka dalam Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) XIII tingkat Kota Bontang.
Mengusung tema "Menyiapkan Generasi Qurani Menyongsong Masa Depan Gemilang", ajang yang digelar setiap tiga tahun ini bukan sekadar perlombaan. FASI menjadi pintu awal bagi para santri terbaik untuk mewakili Bontang pada kompetisi tingkat Provinsi Kalimantan Timur yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Ketua Panitia FASI XIII, Arif Handoko, menjelaskan total peserta tahun ini mencapai 563 santri, terdiri atas 131 santri TKA, 261 santri TPA, dan 171 santri TQA.
"FASI merupakan agenda tiga tahunan yang menjadi ajang pembinaan sekaligus seleksi menuju tingkat provinsi," ujar Arif.
Optimisme Bontang bukan tanpa alasan. Selama sembilan kali berturut-turut, kota ini berhasil menyabet gelar juara umum FASI tingkat Provinsi Kalimantan Timur. Tahun ini, BKPRMI menargetkan mempertahankan tradisi tersebut dengan meraih gelar juara umum untuk ke-10 kalinya.
Menurut Arif, prestasi itu lahir dari proses pembinaan yang berlangsung secara konsisten. Meski para santri terus berganti setiap tahun, para pelatih tetap menjaga kualitas pembinaan sehingga mampu melahirkan peserta-peserta berprestasi.
"Santri boleh berganti, tetapi pelatih tetap konsisten berprestasi. Ditambah evaluasi dari konsultan dan dewan hakim, kualitas santri terus meningkat," katanya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Bontang yang selama ini memberi perhatian terhadap kesejahteraan guru ngaji, penggiat agama, serta peningkatan kompetensi tenaga pendidik Al-Qur'an.
FASI XIII berlangsung mulai 24 hingga 26 Juli 2026. Beragam cabang lomba dipertandingkan, mulai dari mewarnai, menggambar, azan, praktik salat, tartil Al-Qur'an, ceramah, Cerdas Cermat Al-Qur'an, nasyid Islami, kaligrafi, tilawah hingga kisah Islami.
Pelaksanaan lomba tersebar di sejumlah lokasi, di antaranya Sekretariat Baitul Quran BKPRMI, Aula Santri, Aula MUI, Masjid Baitul Muttaqin, Masjid Al-Fatah, serta Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bontang.
Menariknya, penyelenggaraan FASI tahun ini tetap berjalan meski tanpa dukungan anggaran pemerintah akibat kebijakan efisiensi fiskal.
"Festival ini murni tanpa anggaran pemerintah. Berkat dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, kegiatan tetap bisa terlaksana," ungkap Arif.
Wakil Ketua DPW BKPRMI Kaltim, Endro S. Effendi, menilai keberhasilan Bontang tidak lepas dari perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru ngaji.
Ia menyebut insentif guru ngaji di Bontang termasuk yang tertinggi di Kaltim. Ke depan, ia berharap apresiasi tersebut dapat diperluas melalui program pemberangkatan umrah maupun haji bagi para guru ngaji.
Menurut Endro, FASI memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak sejak dini, terutama ketika mereka dihadapkan pada derasnya arus informasi dan konten digital yang belum tentu membawa pengaruh positif.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Bontang, Dasuki, menegaskan FASI bukan sekadar kompetisi mencari juara.
Ia menyebut festival tersebut menjadi sarana membangun karakter sekaligus mengevaluasi hasil pendidikan keagamaan yang selama ini dilakukan oleh para guru ngaji dan orang tua.
"FASI adalah media evaluasi kualitas pendidikan karakter dan keagamaan anak-anak kita. Ini investasi penting untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual," ujarnya.
Dasuki juga memberikan apresiasi kepada BKPRMI, para pelatih, guru ngaji, dan orang tua yang selama ini terus mendampingi para santri hingga mampu mengharumkan nama Bontang di tingkat provinsi. (*)















