DAYA beli masyarakat Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan penguatan sepanjang 2025. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita Kota Bontang 2025 mencapai Rp2.799.896 per bulan, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut mencapai Rp447.249 atau 19,01 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka Rp2.352.646. Capaian ini sekaligus menempatkan Bontang sebagai daerah dengan pengeluaran per kapita tertinggi di Kaltim.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, setiap penduduk Bontang rata-rata membelanjakan Rp1.090.005 untuk kebutuhan makanan. Sementara Rp1.709.891 dialokasikan untuk kebutuhan bukan makanan.
Komposisi tersebut menunjukkan sekira 38,93 persen pengeluaran digunakan untuk konsumsi makanan, sedangkan 61,07 persen lainnya dipakai memenuhi kebutuhan nonmakanan.
Dominasi belanja nonmakanan menjadi salah satu indikator yang lazim digunakan untuk menggambarkan meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
Dalam ilmu ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai Hukum Engel, yakni ketika pendapatan meningkat, proporsi pengeluaran untuk makanan cenderung menurun meski nilainya tetap bertambah.
Besarnya pengeluaran masyarakat membuat Kota Bontang berada di peringkat pertama dari 10 kabupaten/kota di Kaltim.
Tak hanya itu, secara nasional Bontang juga masuk kelompok daerah dengan tingkat pengeluaran tertinggi. Kota industri tersebut menempati peringkat ke-14 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia berdasarkan besaran pengeluaran per kapita sepanjang 2025.
Posisi tersebut memperlihatkan aktivitas konsumsi rumah tangga di Bontang masih menjadi salah satu penopang utama perputaran ekonomi daerah.
Jika dibandingkan dengan 2024, kenaikan pengeluaran terjadi pada seluruh kelompok belanja. Pengeluaran makanan meningkat dari Rp962.630 menjadi Rp1.090.005 per kapita setiap bulan.
Adapun pengeluaran bukan makanan naik lebih besar, dari Rp1.390.016 menjadi Rp1.709.891.
Menariknya, meski nilai belanja makanan bertambah, porsinya justru turun dari 40,92 persen menjadi 38,93 persen. Sebaliknya, porsi pengeluaran bukan makanan meningkat dari 59,08 persen menjadi 61,07 persen.
Perubahan komposisi ini menggambarkan bahwa masyarakat tidak hanya meningkatkan konsumsi kebutuhan pokok, tetapi juga memiliki ruang belanja yang lebih besar untuk pendidikan, kesehatan, transportasi, komunikasi, perumahan, hingga kebutuhan penunjang kualitas hidup lainnya.
Data ini merupakan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) dengan periode data terbaru 2025 dan terakhir diperbarui pada 22 Juli 2026. (*)















