BONTANG, Pranala.co — Usianya baru 14 tahun. Seharusnya ia masih sibuk dengan buku pelajaran, tugas sekolah, atau sekadar bercanda dengan teman sebaya. Namun kenyataan berkata lain.
Seorang remaja putri di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) justru harus berhadapan dengan dunia yang terlalu cepat ia kenal—narkotika, tekanan lingkungan, dan keputusan-keputusan yang membawa konsekuensi panjang.
Kisahnya terungkap dari sebuah peristiwa kecil di dalam rumahnya sendiri. Awalnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang menerima permintaan yang terdengar sederhana: seorang remaja ingin direhabilitasi.
Remaja itu datang bersama kakaknya. Tidak ada kegaduhan. Tidak ada penangkapan. Namun di balik permintaan itu, tersimpan cerita yang jauh lebih rumit.
“Awalnya kami kira hanya ingin direhabilitasi. Tapi saat dilakukan screening, ternyata ada kasus lain yang menyertainya,” ujar Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, kepada Pranala.co, Jumat (10/4/2026).
Kasus lain itu adalah pencurian. Remaja tersebut diketahui mengambil barang-barang milik keluarganya sendiri—gawai hingga sebuah jam tangan mewah.
Nilai kerugiannya tidak kecil. Jam tangan itu saja diperkirakan mencapai Rp80 juta. Peristiwa itu terbongkar secara tak terduga.
Jam tangan yang belum sempat dijual disembunyikan di dalam jok sepeda motor. Saat motor tersebut dipinjam sepupunya untuk membeli bahan bakar, seorang penjual bensin merasa curiga melihat barang tersebut.
Kecurigaan itu berkembang. Keluarga mulai menelusuri asal-usulnya—hingga akhirnya mengarah kepada sang remaja. Awalnya, ia tidak mengaku. Namun pertanyaan yang terus berulang akhirnya membuka kejujuran.
“Setelah ditanya berkali-kali, dia mengakui perbuatannya,” kata Lulyana.
Kasus ini sempat masuk ke ranah kepolisian. Namun mengingat usia pelaku masih sangat muda, penyelesaian secara kekeluargaan dipilih. Di titik itu, kecurigaan lain mulai muncul.
Petugas menemukan foto-foto terkait penggunaan narkotika di ponsel korban. Hasil tes urine memang menunjukkan negatif, tetapi pengakuan datang kemudian.
Remaja tersebut mengaku sebagai pengguna sabu. Ia terakhir mengonsumsi sekitar sepekan sebelum pemeriksaan.
Dari hasil asesmen, diketahui bahwa ia telah menggunakan sabu kurang dari satu tahun, dengan intensitas yang meningkat dalam empat bulan terakhir.
Di balik semua itu, ada cerita yang lebih dalam. Remaja ini telah putus sekolah sejak usia dini. Hari-harinya diisi dengan berjualan minuman sederhana. Lingkungan pergaulan yang kurang terkontrol menjadi salah satu faktor yang mendorongnya terjerumus.
“Lingkungan pertemanan sangat memengaruhi. Ia salah memilih teman,” ujar Lulyana.
BNN Kota Bontang menilai tingkat ketergantungan remaja tersebut berada pada kategori sedang menuju berat. Penilaian ini tidak hanya didasarkan pada frekuensi penggunaan, tetapi juga kondisi sosial, psikologis, serta lingkungan keluarga.
“Kalau hanya dilihat dari pemakaian mungkin masih sedang. Tapi jika dilihat secara menyeluruh, ia membutuhkan penanganan yang lebih komprehensif,” jelasnya.
Atas dasar itu, BNN merekomendasikan rehabilitasi rawat inap. Keputusan tersebut mendapat dukungan penuh dari keluarga. Sebuah langkah yang tidak mudah, tetapi penting untuk masa depan anak tersebut.
Dalam waktu dekat, remaja itu akan dibawa ke balai rehabilitasi BNN di Samarinda untuk menjalani perawatan intensif.
“Rencananya akan kami bawa ke pusat rehabilitasi. Bersama satu remaja putri lain yang juga telah kami asesmen,” ungkap Lulyana. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















