RENCANA perjalanan dari Surabaya menuju Balikpapan pada pertengahan April 2026 mendadak tidak lagi sederhana. Tiket yang biasanya mudah didapat, kini menjadi langka. Kalaupun tersedia, harganya melonjak tajam—bahkan hingga puluhan juta rupiah.
Berdasarkan pantauan pada platform pemesanan perjalanan, keterbatasan kursi terutama di kelas ekonomi memicu lonjakan harga yang tidak biasa. Kondisi ini juga berdampak pada pilihan rute yang semakin tidak efisien.
Pada Kamis, 9 April 2026, misalnya, sistem pencarian tidak lagi menampilkan penerbangan langsung. Calon penumpang hanya disuguhi opsi penerbangan transit, bahkan hingga lintas negara seperti Jakarta, Kuala Lumpur, dan Singapura.
Durasi perjalanan pun membengkak drastis, mencapai 25 hingga 29 jam. Harga tiket untuk rute tersebut berkisar antara Rp5,6 juta hingga Rp8 juta per penumpang. Situasi semakin sulit sehari setelahnya.
Pada Jumat, 10 April 2026, tidak ditemukan satu pun jadwal penerbangan dalam sistem pencarian. Sementara Sabtu, 11 April 2026, pilihan yang tersisa hanyalah kursi kelas bisnis dari salah satu maskapai nasional, dengan tarif mencapai Rp25,5 juta per orang.
Lonjakan harga ini jauh melampaui tarif normal untuk rute yang sama. Menariknya, kondisi tersebut tidak terjadi pada arah sebaliknya.
Penerbangan dari Balikpapan menuju Surabaya justru terpantau normal. Ketersediaan kursi masih memadai, dengan harga tiket kelas ekonomi yang relatif stabil.
Sejumlah maskapai bertarif rendah masih menawarkan tiket langsung dengan harga berkisar Rp1,09 juta hingga Rp1,3 juta, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit.
Perbandingan ini menunjukkan disparitas yang cukup mencolok. Saat tiket menuju Balikpapan menembus puluhan juta rupiah, tiket keluar dari Balikpapan justru tetap berada di kisaran harga normal.
Fenomena ini diduga dipicu oleh lonjakan permintaan pada rute Surabaya–Balikpapan atau keterbatasan frekuensi penerbangan dalam periode tertentu. Akibatnya, calon penumpang harus bersaing mendapatkan kursi yang terbatas. [RE/DIAS]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















Biasa itu hukum pasar. Masih arus balik