Pranala.co, BONTANG – Setiap pagi, Ainun Salsabila memulai hari dari dapur sederhana. Aroma nasi kuning menemani langkahnya sebelum berangkat sekolah. Kini, langkah itu mengarah lebih jauh. Hingga ke luar negeri.
Gadis asal Bontang ini berpeluang mewujudkan mimpi besarnya. Melanjutkan kuliah ke India. Ainun diterima di Marwadi University, sebuah perguruan tinggi di Negeri Bollywood.
Ainun merupakan siswi kelas XII jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMK Putra Bangsa Bontang. Sejak lama, ia bercita-cita memperdalam dunia komputer. Fokusnya desain grafis dan pengembangan website.
“Saya memang ingin fokus di bidang komputer,” ujar Ainun, Minggu (18/1/2026).
Mimpi itu ia simpan rapat-rapat. Bukan karena ragu. Tapi karena sadar, kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas.
Ainun lahir di Bontang, 10 November 2007. Ia adalah anak dari seorang penjual nasi kuning. Setiap pagi, sebelum ke sekolah, ia membantu ibunya membuat kue dan mengantar dagangan ke tempat jualan.
Keterbatasan itu tak membuatnya menyerah. Justru sebaliknya. Ia belajar lebih keras. Lebih tekun. Lebih disiplin.
Selama tiga tahun bersekolah di SMK Putra Bangsa, Ainun selalu menjadi juara kelas. Peringkat pertama tak pernah lepas dari genggamannya.
Prestasi itu menjadi bukti. Bahwa pilihannya layak diperjuangkan. “Saya ingin bertanggung jawab dengan pilihan saya,” tuturnya.
Peluang kuliah ke luar negeri datang ketika sekolahnya menjalin kerja sama dengan TIE-UPS International. Lembaga ini menjadi penghubung pendidikan antara Indonesia dan India.
Kerja sama tersebut resmi dilakukan Kamis (15/1/2026) melalui pertemuan daring bersama Direktur TIE-UPS, Ravi Makhija.
Ainun ditawari langsung oleh kepala sekolah. “Menurut saya ini kesempatan besar. Jadi tanpa berpikir panjang, saya langsung setuju,” kata Ainun.
Awalnya, Ainun hanya memberi tahu kakaknya. Respons keluarga cukup positif. Persetujuan sang ibu akan disampaikan setelah pulang dari Banjarmasin. Saat ini, komunikasi sempat terhambat akibat banjir dan gangguan sinyal.
Ainun yakin, ibunya akan mendukung. Sebab sejak awal, sang ibu telah memberi restu atas keinginannya kuliah ke luar negeri.
Perjalanan Ainun tidak selalu mulus. Ia berasal dari keluarga yang sangat menekankan pendidikan agama.
Ayahnya, Idris Muhammad, seorang kiai. Ia sempat berharap Ainun melanjutkan pendidikan di pesantren.
Butuh waktu panjang untuk meyakinkan orang tua. Ainun ingin membuktikan bahwa pendidikan formal juga bisa menjadi jalan pengabdian. Dan ia membuktikannya lewat prestasi.
Salah satu syarat utama beasiswa adalah kemampuan bahasa Inggris aktif. Ainun merasa siap. Ia terbiasa berkomunikasi dengan teman-teman dari luar negeri.
“Saya ingin coba dulu. Mudah-mudahan ini jadi jalan saya menggapai cita-cita,” ucapnya penuh harap.
Kepala SMK Putra Bangsa, Muslimin, menyebut Ainun sebagai salah satu siswa terbaik.
“Kami tertarik bekerja sama karena banyak siswa kami berprestasi. Ainun salah satunya,” ujarnya.
Tidak ada kuota khusus dalam program ini. Namun Ainun menjadi siswa pertama yang mendaftar. Ke depan, peluang terbuka bagi siswa lain dengan nilai kejuruan dan kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni.
Dukungan juga datang dari Ketua Yayasan SMK Putra Bangsa, Rediyono. Dia berkomitmen membantu setengah biaya hidup Ainun selama kuliah di India.
“Biaya hidup di sana sekira Rp3 juta per bulan. Saya bantu setengahnya sampai Ainun lulus. Kami ini juga orang tuanya,” katanya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















