Bontang. PRANALA.CO – Kota Bontang, Kaltim punya cara baru untuk menyalakan semangat belajar. Bukan dengan razia malam atau teguran keras, tapi dengan cahaya lampu dan semangat literasi.
Mulai pukul 19.00 hingga 21.00 Wita, pelajar di Bontang akan diajak bergabung dalam program bimbingan belajar malam. Gratis.
Ide ini muncul dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang, program ini bukan sekadar les tambahan. Ia adalah jalan sunyi yang mungkin akan jadi terang, bagi pelajar dan juga para lulusan muda yang belum bekerja.
“Daripada kita terus-menerus lakukan razia malam, lebih baik sediakan kegiatan positif seperti ini,” ujar Sekretaris Disdikbud Bontang, Saparuddin, Kamis (25/4/2025).
Saparuddin tahu betul bahwa pelajar tak akan berubah hanya karena takut. Mereka butuh tempat. Butuh ruang. Dan malam hari, kata dia, sering kali menjadi waktu kosong yang justru diisi dengan aktivitas tak produktif. Maka, lahirlah ide ini: menjadikan malam sebagai waktu belajar yang menyenangkan.
Namun jangan bayangkan bimbel ini seperti ruang kelas penuh rumus dan hafalan. Fokusnya bukan ujian sekolah, melainkan hal yang lebih mendasar: membaca, menulis, dan berhitung. Literasi dasar yang jadi pondasi belajar seumur hidup.
“Pelajaran pokok tetap di sekolah. Yang kita kejar di sini adalah kebiasaan,” kata Saparuddin. “Supaya anak-anak terbiasa aktif di malam hari dengan kegiatan yang positif dan mendidik.”
Ada satu hal menarik lainnya dari program ini: pengajarnya bukan guru-guru formal. Disdikbud justru menyasar lulusan perguruan tinggi yang belum mendapat pekerjaan tetap. Mereka yang sering kali dianggap pengangguran, kini diajak menjadi bagian dari solusi.
“Kalau tiap kelurahan ada lima kelompok bimbel, dan kita punya 15 kelurahan, maka bisa terbentuk 75 kelompok belajar. Itu peluang besar,” jelasnya.
Dengan begitu, satu kebijakan bisa menyentuh dua hal sekaligus: memperkuat karakter pelajar dan memberi peluang kerja bagi para sarjana muda. Ini bukan program satu arah. Ia bersilang. Seperti jembatan yang menghubungkan dua sisi kehidupan: pendidikan dan lapangan kerja.
Tentu, Disdikbud Bontang tak ingin program ini sekadar jadi wacana. Sistem insentif sedang dirancang, agar para pengajar tak sekadar mengabdi, tapi juga mendapat penghargaan yang layak. Rencana awalnya, bimbel akan digelar tiga kali seminggu, dengan waktu yang disesuaikan.
“Anggaran sedang kita siapkan. Kita ingin program ini benar-benar berjalan,” pungkas Saparuddin. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami













