Sangatta, PRANALA.CO – Komando Distrik Militer (Kodim) 0909/Kutai Timur (Kutim) mulai bergerak mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Sebagai langkah awal, dua titik dapur sehat akan segera dioperasikan di Kecamatan Sangatta Utara untuk menyiapkan ribuan porsi makanan bergizi setiap harinya.
Komandan Kodim 0909/Kutim, Letkol Inf Ginanjar Wahyutomo, bilang dapur sehat ini merupakan bentuk kolaborasi antara TNI AD dan Badan Gizi Nasional (BGN). Dapur ini akan menyasar anak sekolah, ibu hamil, hingga lansia sebagai bagian dari kelompok rentan yang menjadi prioritas.
“Dua lokasi awal yang kami siapkan ada di Jalan APT Pranoto dan jalan poros Kabo. InsyaAllah Mei sudah bisa mulai distribusi,” ujar Ginanjar saat ditemui di Sangatta, Jumat (11/4/2025).
Menurut Ginanjar, program MBG tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi masyarakat. Tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi lokal. Bahan pangan akan dipasok dari petani dan pelaku UMKM di sekitar dapur, termasuk melibatkan tenaga kerja paruh waktu dari warga setempat.
“Kami ingin program ini juga berdampak ekonomi. Misalnya beras dari sawah warga lokal, telur dari peternak sekitar, dan tenaga kerja dari warga yang memang butuh penghasilan tambahan,” tuturnya.
Kodim Kutim mencatat bahwa secara keseluruhan akan dibangun 57 titik dapur di seluruh Kutai Timur yang mencakup 18 kecamatan. Setiap dapur ditargetkan mampu menyiapkan 3.000–3.500 porsi makanan bergizi setiap hari.
Guna memastikan kualitas dan efektivitas program, setiap dapur akan berada di bawah pengawasan satuan khusus bernama Satuan Penanggung Jawab Pelaksana Implementasi (SPPI). Mereka bertugas memantau seluruh proses produksi dan distribusi makanan agar sesuai dengan standar gizi dan higienitas.
“Jika masyarakat menemukan kekurangan atau punya masukan, silakan disampaikan. Bisa langsung ke penanggung jawab dapur atau ke kami di Kodim. Nanti kami teruskan ke koordinator wilayah,” jelas Ginanjar.
Program MBG yang digagas pemerintah pusat ini mulai menunjukkan implementasi nyata di daerah. Sinergi antarinstansi dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci suksesnya pelaksanaan di lapangan.
“Program ini bukan milik satu pihak saja. Kami, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan harus bergandengan tangan agar hasilnya benar-benar terasa oleh warga,” pungkas Ginanjar. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















