ASA para pedagang di Pasar Sepinggan, Balikpapan untuk mengais rezeki Jumat (31/7/2026) pagi mendadak sirna. Gulungan asap hitam pekat membubung tinggi, menyelimuti pasar legendaris yang telah berdiri sejak era 1970-an di kawasan Balikpapan Selatan tersebut.
Dalam hitungan menit, api menyapu puluhan kios. Jerit histeris pedagang yang berusaha menyelamatkan barang dagangan tak mampu membendung keganasan si jago merah yang melahap bangunan bertulang kayu tua itu.
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, gumpalan api pertama kali membesar sekira pukul 07.00 WITA. Sejumlah pedagang yang baru tiba di lapak sempat melihat kilatan percikan di sekitar meteran listrik sebelum api menyebar cepat.
Situasi kian menyudutkan pedagang karena tak ada satu pun Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang siap pakai di lokasi. Panik menyeruak, kepulan asap mengepung, sementara upaya pemadaman mandiri dengan alat seadanya tak banyak membantu.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, Haemusri Umar, membenarkan kendala teknis penanganan awal di area pasar tersebut. Absennya fasilitas pemadam darurat membuat api berkejaran dengan waktu.
"Pedagang kesulitan melakukan penanganan awal karena tidak tersedia APAR. Akibatnya api cepat membesar," tutur Haemusri saat meninjau lokasi penanganan pascakebakaran.
Kepala BPBD Kota Balikpapan, Usman Ali, mengerahkan seluruh armada dari berbagai sektor begitu laporan masuk. Namun, pergerakan armada pemadam sempat terhambat oleh kondisi geografis pasar tradisional yang sangat padat.
Akses jalan yang sempit serta juntaian kabel listrik yang membentang rendah di atas area pasar menjadi tembok penghalang bagi petugas. Ditambah lagi, mayoritas material bangunan berbahan kayu kering yang membuat api kian menjilati setiap sudut kios.
Meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, kerugian materiil ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Bagi para pedagang kecil, angka tersebut melambangkan seluruh modal hidup yang lenyap dalam sekejap. (*)















