MANAJEMEN RSUD Kudungga, Kutai Timur (Kutim) akhirnya buka suara terkait riuh informasi pelayanan salah seorang pasien yang menyita perhatian masyarakat luas. Rumah sakit pelat merah ini menyampaikan permohonan maaf terbuka atas ketidaknyamanan yang dirasakan pasien dan keluarganya selama menjalani perawatan.
Langkah responsif ini diambil usai tim manajemen melakukan penelusuran internal dan berkoordinasi langsung dengan tim medis yang menangani pasien tersebut. RSUD Kudungga menegaskan komitmennya untuk menjadikan keluhan masyarakat sebagai bahan evaluasi demi membenahi kualitas layanan kesehatan.
“RSUD Kudungga mengucapkan terima kasih atas setiap masukan, kritik, maupun pengaduan yang disampaikan oleh pasien dan keluarga. Kami juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan,” ujar Wakil Direktur Umum, Keuangan, dan Administrasi Umum RSUD Kudungga, Jumraedah, mewakili Direktur RSUD Kudungga Muhammad Yusuf, Selasa (28/7/2026).
Isu yang beredar di tengah publik menyebut pasien hanya mendapatkan obat pereda nyeri tanpa penanganan tuntas. Menanggapi tuduhan ini, manajemen RSUD Kudungga membantah keras.
Berdasarkan hasil penelusuran medis, pasien ditangani oleh dua dokter spesialis sekaligus, yakni Spesialis Penyakit Dalam dan Spesialis Bedah. Dari sisi medis, penanganan yang diberikan sudah sesuai indikasi dan tata laksana kesehatan yang berlaku.
Selain pereda nyeri, tim medis telah memberikan terapi antibiotik berdasarkan diagnosis pasien. "Pasien telah mendapatkan penanganan sesuai indikasi medis dan standar pelayanan yang berlaku," tegas Jumraedah.
Penjelasan Terkait Penundaan Operasi dan Dokter Cuti
Mengenai tindakan operasi yang belum langsung dilaksanakan, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa keputusan tersebut murni pertimbangan klinis. Tim dokter sengaja memantau perkembangan kondisi pasien terlebih dahulu, termasuk memantau parameter infeksi dan fungsi hati.
Operasi baru diputuskan setelah kondisi pasien stabil dan memenuhi syarat medis. Langkah ini diambil demi memastikan keselamatan pasien selama tindakan bedah berlangsung.
Sementara itu, rumor mengenai dokter spesialis bedah yang sedang menjalani cuti dibenarkan pihak rumah sakit. Namun, Jumraedah memastikan pelayanan medis tidak terhenti. Penanganan pasien langsung dilimpahkan kepada dokter spesialis bedah pengganti agar perawatan tetap berkesinambungan.
Akui Ada Miskomunikasi dengan Keluarga Pasien
Di balik polemik yang terjadi, RSUD Kudungga mengakui adanya celah komunikasi antara tenaga medis dan pihak keluarga pasien. Informasi mengenai tahapan pengobatan dan alasan penundaan operasi belum tersampaikan secara utuh, sehingga memicu salah paham.
"Kondisi itu memunculkan miskomunikasi dan perbedaan persepsi mengenai proses pelayanan yang dijalani pasien," aku manajemen menukil Proktutim.
Masalah komunikasi ini kini menjadi catatan dan evaluasi besar bagi internal RSUD Kudungga. Pihak rumah sakit berjanji akan meningkatkan keterbukaan informasi klinis agar keluarga memahami setiap tindakan medis yang diambil tim dokter.
Sebagai bentuk transparansi dan perbaikan mutu, RSUD Kudungga mengimbau masyarakat memanfaatkan saluran pengaduan resmi jika menemukan kendala pelayanan.
Masyarakat dapat melapor langsung ke Unit Layanan Informasi dan Pengaduan (ULIP) di gedung utama Poliklinik, melalui situs resmi, atau lewat kontak WhatsApp Pengaduan di nomor 082213756884.
"Setiap pengaduan yang diterima akan diproses secara objektif, profesional, dan mengedepankan penyelesaian terbaik bagi seluruh pihak," kata Jumraedah menutup keterangannya. (*)















