PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) mengalokasikan anggaran senilai Rp1,3 triliun hingga 2026 untuk mendukung pelaksanaan program Gratispol Pendidikan. Bantuan biaya kuliah ini telah menjangkau 105 ribu mahasiswa di 52 perguruan tinggi negeri maupun swasta hingga semester ganjil 2026.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) Benua Etam. Pemerintah hadir agar generasi muda tidak lagi terkendala masalah finansial saat menempuh pendidikan tinggi.
“Gratispol Pendidikan merupakan investasi kita untuk masa depan Kaltim. Pemerintah hadir agar anak-anak Kaltim memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi tanpa terkendala persoalan biaya,” ujar Rudy Mas’ud di Samarinda mengutip keterangan resminya, Selasa (2/9/2026).
Program Gratispol Pendidikan yang menjadi prioritas utama Pemprov Kaltim menyasar mahasiswa di 7 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 45 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di seluruh wilayah Kalimantan Timur. Anggaran triliunan rupiah tersebut dikucurkan guna memastikan pemerataan akses kuliah secara meluas.
Menurut Rudy, pembangunan SDM unggul harus berjalan selaras dengan pembangunan fisik dan infrastruktur daerah.
“Yang kita bangun bukan hanya gedung dan infrastruktur, tetapi juga manusia. Investasi di bidang pendidikan harus kita lakukan secara berkelanjutan agar anak-anak Kaltim mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” tambahnya.
Pemprov Kaltim terus membuka ruang evaluasi agar program Gratispol Pendidikan semakin tepat sasaran dan berdampak optimal. Masukan dari mahasiswa serta pihak rektorat menjadi bahan pertimbangan untuk menyempurnakan mekanisme penyaluran.
Selain pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT), Pemprov Kaltim mencermati aspirasi mengenai biaya hidup (living cost) bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Usulan ini akan dibahas secara intensif bersama pemerintah kabupaten dan kota.
“Setiap aspirasi mahasiswa kita evaluasi. Prinsipnya, pemerintah ingin memastikan anak-anak Kaltim bisa kuliah, lulus, lalu berkontribusi bagi pembangunan daerah,” kata Rudy.
Manfaat nyata program Gratispol Pendidikan dirasakan langsung 1.300 mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda melalui pembebasan UKT.
Tim Gratispol UINSI Samarinda, Raihan, mengungkapkan bahwa hasil survei internal menunjukkan mayoritas penerima manfaat berharap program ini terus berjalan. Bantuan UKT terbukti memangkas risiko putus kuliah bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Mahasiswa baru yang menerima manfaat khawatir putus kuliah jika tidak lagi mendapatkan bantuan UKT,” ungkap Raihan saat bertemu dengan Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji dalam agenda silaturahmi Aliansi Dema PTKIN Kalimantan.
Melalui komitmen anggaran yang kuat dan evaluasi berkelanjutan, Gratispol Pendidikan diproyeksikan menjadi fondasi utama mewujudkan SDM Kalimantan Timur yang unggul, mandiri, dan berdaya saing global. (*)















