BAGI sebagian warga, persoalan sampah mungkin terlihat sepele. Tapi bagi Pemerintah Kota Bontang, masalah itu kini menjadi pertaruhan serius.
Bukan hanya soal lingkungan. Tapi juga soal kesehatan, wajah kota, hingga kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengambil langkah yang cukup berani. Ia menyiapkan reward hingga Rp500 juta bagi camat dan lurah yang dinilai berhasil menangani persoalan sampah dan stunting di wilayahnya.
Pernyataan itu disampaikan Neni usai penandatanganan perjanjian kinerja bersama camat, lurah, dan kepala puskesmas, Kamis (21/5/2026).
Neni menegaskan, penghargaan tersebut tidak diberikan asal-asalan. Semua akan berbasis capaian kinerja yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan.
“Bagi wilayah, camat, lurah yang berhasil menangani masalah sampah dan stunting, kita akan memberikan insentif Rp500 juta,” ujar Neni.
Menurut dia, indikator penilaian tengah disusun agar proses evaluasi berjalan objektif.
Penilaian itu nantinya melibatkan lintas sektor. Mulai dari dinas terkait hingga puskesmas.
Langkah tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa Pemkot Bontang ingin mengubah pola kerja birokrasi dari sekadar administratif menjadi berbasis hasil nyata di lapangan.
Meski optimistis, Neni mengaku persoalan sampah belum sepenuhnya selesai.
Dalam sejumlah kunjungan langsung ke RT dan kelurahan, ia masih menemukan titik-titik yang dipenuhi sampah.
Namun, ia juga melihat perubahan mulai terjadi di beberapa wilayah. Kelurahan Gunung Telihan menjadi salah satu contoh yang disebut mengalami kemajuan cukup signifikan.
“Saya sering turun langsung ke RT dan wilayah kelurahan. Masih ada sampah, tapi sekarang sudah banyak perubahan. Seperti di Telihan, alhamdulillah sudah bersih,” katanya.
Di balik tumpukan sampah, ada persoalan yang lebih rumit: perilaku masyarakat. Neni mengakui, mengubah kebiasaan warga bukan pekerjaan mudah.
Karena itu, ia meminta seluruh aparat wilayah tidak menyerah dan terus membangun kesadaran masyarakat.
“Merubah perilaku itu sangat sulit, tapi jangan menyerah. Kita harus sabar karena ini bagian dari tanggung jawab kita kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali budaya gotong royong.
Menurutnya, kebersihan lingkungan tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah.
Dalam arahannya, Neni meminta para camat dan lurah tidak hanya memberi instruksi dari kantor. Mereka diminta turun langsung memimpin gerakan kebersihan lingkungan.
Mulai dari memastikan saluran air tidak tersumbat hingga mengantisipasi genangan dan banjir. Dalam tiga bulan ke depan, penanganan sampah di Bontang harus menunjukkan hasil yang terukur.
Karena itu, seluruh camat dan lurah diminta menyusun target kerja masing-masing dan mempresentasikannya kepada Sekretaris Daerah.
“Saya minta camat dan lurah menyusun rencana kerja dan targetnya. Lalu dipresentasikan kepada Sekretaris Daerah,” ucap Neni.
Selain fokus pada penanganan sampah, Pemkot Bontang juga menaruh perhatian besar pada persoalan stunting.
Masalah ini dianggap jauh lebih serius karena menyangkut masa depan generasi muda.
Karena itu, pendekatan yang dilakukan bukan hanya penanganan teknis, tetapi juga edukasi masyarakat.
Warga didorong mulai menerapkan konsep 3R—Reduce, Reuse, Recycle—untuk mengurangi produksi sampah rumah tangga.
Bagi Pemkot Bontang, perubahan harus dimulai sekarang. Sebab jika tidak, persoalan lingkungan dan kesehatan akan terus menjadi beban jangka panjang kota.
“Kalau tidak mulai dari sekarang, kapan lagi. Ini tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkan Bontang yang lebih baik,” pungkasnya. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















