SITUASI operasional PT Pamapersada Nusantara (PAMA) site KPCS di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah berada dalam tekanan.
Perusahaan kontraktor tambang raksasa itu kini hanya memiliki satu area kerja aktif. Padahal sebelumnya PAMA mengelola tiga wilayah operasional di Kutim.
Area timur telah ditutup. Sementara project Bengalon juga sudah selesai beroperasi.
Kondisi itu diakui langsung oleh Human Resource Development (HRD) PAMA, Tri Rahmat Soleh, usai bertemu organisasi masyarakat Remaong Koetai Berjaya (RKB) di Mess PAMA KPCS, Rabu (20/5/2026).
“Dari tiga area kerja di Kutai Timur, sekarang tinggal satu yang masih berjalan,” ujar Tri.
Penyusutan area kerja itu bukan sekadar angka di atas kertas. Efeknya langsung menghantam kebutuhan tenaga kerja di lapangan.
Perusahaan pun melakukan penyesuaian jumlah pekerja agar operasional tetap seimbang dengan kapasitas kerja yang tersedia.
Menurut Tri, sekira 400 tenaga kerja telah dikurangi dalam proses evaluasi internal perusahaan. Mayoritas pekerja yang terdampak disebut berasal dari luar daerah.
Saat ini jumlah pekerja PAMA di site KPCS tercatat sekitar 4.000 orang. Jika ditambah tenaga kerja subkon, total keseluruhan mencapai sekira 6.000 pekerja.
Angka itu membuat kondisi operasional PAMA menjadi perhatian besar, terutama bagi masyarakat lingkar tambang di Kutim. Sebab, stabilitas operasional perusahaan berhubungan langsung dengan denyut ekonomi daerah.
Mulai dari tenaga kerja, usaha kontraktor lokal, hingga perputaran ekonomi masyarakat sekitar tambang. Tri mengatakan keputusan pengurangan pekerja tidak dilakukan sepihak oleh HRD.
Prosesnya dilakukan melalui pembahasan bersama departemen pengguna tenaga kerja di masing-masing area kerja.
“HR tidak bisa serta-merta memutuskan sendiri. Kami mendiskusikan dan meminta data dari departemen user tempat tenaga kerja itu ditempatkan,” katanya.
Di tengah tekanan operasional, PAMA mengaku masih berusaha mempertahankan tenaga kerja lokal. Hal itu juga menjadi salah satu aspirasi utama yang disampaikan organisasi RKB dalam pertemuan bersama manajemen perusahaan.
PAMA menegaskan tetap membuka ruang komunikasi terkait prioritas pekerja lokal di lingkungan operasional perusahaan.
“Kami menghormati penyampaian aspirasi dari teman-teman RKB. Diskusi tadi juga berlangsung cukup baik dan kondusif,” ujar Tri.
Langkah mempertahankan pekerja lokal dinilai penting karena sektor tambang selama ini menjadi salah satu penopang utama lapangan kerja di Kutai Timur.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil, PAMA berharap tidak ada lagi pengurangan tenaga kerja tambahan, terutama di sektor subcon yang masih menopang aktivitas lapangan.
Perusahaan juga berharap operasional PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebagai pemberi kerja utama tetap berjalan stabil. Sebab keberlangsungan aktivitas KPC menjadi penentu utama bertahannya rantai operasional kontraktor tambang di Kutim. [HAF]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















