NILAI tukar rupiah yang terus melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memunculkan kegelisahan baru. Bukan hanya di pasar keuangan, keresahan itu kini terasa hingga ruang rapat parlemen.
Dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Jakarta, Selasa (19/5/2026), anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino menyinggung ramainya sindiran publik soal kurs rupiah yang dikaitkan dengan tanggal Kemerdekaan Indonesia.
“Sekarang muncul ejekan, kalau Rp17.845 berarti Indonesia merdeka: 17-8-45,” kata Harris di hadapan Perry Warjiyo.
Celetukan itu memang terdengar ringan. Namun di baliknya, ada kegelisahan yang lebih besar: rupiah terus tertekan meski Bank Indonesia sudah mengerahkan berbagai instrumen stabilisasi.
Dalam rapat itu, Harris mempertanyakan klaim BI yang menyebut kondisi rupiah masih “relatif stabil” dibanding mata uang negara lain. Menurut dia, ukuran stabilitas tidak cukup hanya dilihat dari indikator makroekonomi, tetapi juga dari apa yang dirasakan masyarakat sehari-hari.
“Di presentasi Bapak disebut rupiah relatif stabil. Tapi persepsi masyarakat berbeda. Yang dirasakan justru ekonomi melemah,” ujarnya.
Tekanan terhadap rupiah memang belum mereda. Kurs dolar AS sudah bergerak di kisaran Rp17.600 dan terus mendekati level psikologis Rp18.000. Angka itu menjadi sorotan karena mengingatkan publik pada periode-periode tekanan berat ekonomi nasional.
Harris mengakui BI tidak tinggal diam. Bank sentral telah melakukan intervensi besar-besaran di pasar valuta asing, menaikkan suku bunga instrumen SRBI hingga 6,41 persen, hingga membeli Surat Berharga Negara (SBN) ratusan triliun rupiah.
Namun langkah itu juga membawa konsekuensi. Cadangan devisa Indonesia disebut turun dari 156 miliar dolar AS menjadi 146 miliar dolar AS dalam upaya menjaga rupiah agar tidak jatuh lebih dalam.
“Semua instrumen sudah dipakai. Pertanyaannya, kenapa rupiah masih terus mengalami depresiasi?” kata Harris.
Menurut dia, tekanan global memang menjadi faktor utama. Penguatan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi dunia membuat mata uang negara berkembang tertekan. Tetapi Harris menilai persoalan domestik juga ikut memperberat situasi.
Ia menyinggung masalah fiskal, defisit transaksi berjalan, arus modal keluar, hingga menurunnya kepercayaan investor sebagai faktor yang tidak bisa diabaikan.
Harris bahkan sempat menyinggung krisis 1998, meski menegaskan kondisi saat ini berbeda. Saat krisis moneter, rupiah terjun bebas dari sekitar Rp2.500 menjadi Rp16.500 per dolar AS. Kini, pelemahan terjadi dalam struktur ekonomi yang disebut lebih kuat karena dominasi utang domestik lebih besar dibanding utang luar negeri.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa stabilitas rupiah bukan sekadar angka di layar monitor ekonomi.
“Stabilitas itu harus dirasakan masyarakat. Jangan hanya stabil di indikator internal,” ujarnya. [RE/TK]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















