DOMINASI Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai salah satu lumbung ekspor nasional, kinerja perdagangan provinsi ini justru melambat pada Maret 2026. Nilai ekspor turun, sementara impor melonjak tajam—ditarik kebutuhan minyak mentah yang naik drastis dalam sebulan terakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat nilai ekspor Kaltim pada Maret 2026 sebesar US$1,52 miliar. Angka itu turun 9,23 persen dibandingkan Februari 2026 yang mencapai US$1,67 miliar.
Pada saat bersamaan, impor melonjak 81,81 persen menjadi US$631,68 juta. Kenaikan terbesar berasal dari sektor migas, terutama impor minyak mentah.
“Ekspor migas Maret 2026 tercatat sebesar US$114,02 juta, atau turun sebesar 50,18 persen dibandingkan dengan Februari 2026,” ujar Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai dalam rilis resmi, Senin (18/5/2026).
Penurunan ekspor terjadi hampir di seluruh sektor utama. Ekspor hasil minyak turun 47,54 persen menjadi US$45,93 juta. Sementara ekspor gas alam merosot 51,81 persen menjadi US$68,09 juta.
Di sektor nonmigas, penurunan paling dalam terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati—kelompok yang banyak ditopang produk sawit. Nilainya turun US$124,08 juta atau hampir 45 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski begitu, beberapa komoditas masih mencatat kenaikan. Ekspor pupuk melonjak lebih dari tujuh kali lipat atau naik 737,04 persen secara bulanan. Ekspor bahan kimia anorganik juga meningkat 50,65 persen.
Data BPS menunjukkan struktur ekspor Kaltim masih sangat bergantung pada sektor tambang. Sepanjang Januari–Maret 2026, hasil tambang menyumbang 67,87 persen total ekspor daerah. Ketergantungan itu membuat performa perdagangan Kaltim sensitif terhadap fluktuasi harga dan permintaan komoditas global.
China masih menjadi pasar terbesar ekspor nonmigas Kaltim dengan nilai mencapai US$1,55 miliar selama kuartal I/2026. India dan Filipina menyusul di posisi berikutnya.
Di sisi lain, impor migas justru melonjak sangat tinggi. Nilai impor migas mencapai US$561,01 juta pada Maret 2026, naik 113,94 persen dibanding Februari 2026.
Lonjakan terbesar berasal dari impor minyak mentah yang melesat 182,98 persen menjadi US$459,08 juta hanya dalam satu bulan.
“Impor minyak mentah mengalami peningkatan sebesar 146,59 persen, sedangkan impor hasil minyak mengalami peningkatan sebesar 14,77 persen,” kata Mas’ud.
Meski impor naik tajam dan ekspor melemah, neraca perdagangan Kaltim masih mencatat surplus sebesar US$886,53 juta pada Maret 2026. Surplus terutama ditopang sektor nonmigas yang mencapai US$1,33 miliar, sementara sektor migas masih mengalami defisit hampir setengah miliar dolar AS. [DIAS/RIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















