SELAMA bertahun-tahun, Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi salah satu mesin devisa utama Indonesia. Surplus perdagangan terus mengalir, bahkan ketika pandemi Covid-19 mengguncang ekonomi dunia. Namun di balik angka surplus yang masih tebal pada 2026, muncul kekhawatiran baru: fondasi ekonomi Kaltim dinilai belum benar-benar kuat.
Bank Indonesia memperkirakan neraca perdagangan luar negeri Kaltim tetap surplus hingga akhir 2026. Akan tetapi, ketergantungan besar terhadap batu bara dan sektor ekstraktif mulai dianggap sebagai risiko serius di tengah perubahan pasar energi global.
“Meski demikian terdapat beberapa tantangan yang diprakirakan akan berisiko mengurangi gap surplus neraca perdagangan LN Kaltim di tahun 2026,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan, dalam keterangan tertulis, Selasa (19/5/2026).
Data BPS Kaltim menunjukkan neraca perdagangan Maret 2026 masih surplus US$886,53 juta. Namun, angka itu sepenuhnya ditopang sektor nonmigas yang mencatat surplus US$1,33 miliar. Sebaliknya, sektor migas justru mengalami defisit US$446,99 juta.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, total surplus perdagangan Kaltim mencapai US$3,16 miliar. Lagi-lagi, penopangnya adalah surplus nonmigas sebesar US$4,1 miliar yang menutupi defisit migas hampir US$1 miliar. Situasi ini memperlihatkan satu pola lama yang belum berubah: ekonomi Kaltim masih sangat bergantung pada ekspor komoditas mentah, terutama batu bara.
Masalahnya, ruang aman itu mulai menyempit. Pemerintah pusat memangkas kuota produksi batu bara nasional dari 790 juta ton pada 2025 menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026. Kebijakan RKAB dari Kementerian ESDM itu diambil untuk menjaga keseimbangan harga dan permintaan global, tetapi sekaligus berpotensi menekan ekspor daerah penghasil seperti Kaltim.
Di saat bersamaan, harga batu bara dunia memang sedang naik. Harga internasional kini berada di kisaran US$131 per metrik ton atau melonjak sekira 33 persen dibanding awal tahun. Kenaikan dipicu gangguan logistik energi di Selat Hormuz akibat tensi geopolitik Timur Tengah yang memicu peralihan konsumsi gas ke batu bara.
Namun lonjakan itu diperkirakan tidak bertahan lama. Ancaman yang lebih besar justru datang dari percepatan transisi energi di Tiongkok, pasar utama batu bara dunia. Negeri tersebut kini mencatat porsi energi baru terbarukan lebih dari 50 persen dalam bauran energinya. Jika konsumsi batu bara Tiongkok terus melambat, tekanan terhadap ekspor Kaltim diperkirakan makin terasa.
Sekretaris Umum HIPPI Kaltim, Muhammad Reza Fadhillah, menilai kondisi surplus perdagangan Kaltim saat ini masih semu karena sangat sensitif terhadap gejolak harga komoditas global.
“Ketika Harga Batu Bara Acuan naik, devisa Kaltim terlihat kuat. Sebaliknya, saat harga turun atau permintaan dari Tiongkok dan India melemah, surplus akan langsung tertekan,” ujarnya.
Data impor Kaltim turut memperlihatkan rapuhnya struktur ekonomi daerah. Selama kuartal pertama 2026, impor masih didominasi bahan baku dan barang penolong hingga 96,62 persen atau senilai US$1,56 miliar.
Sementara impor barang modal hanya 3,31 persen. Artinya, aktivitas industri di Kaltim masih bergantung pada pasokan luar dan belum sepenuhnya ditopang industri hilir yang kuat.
Di tengah tekanan itu, harapan mulai diarahkan pada hilirisasi dan industri bernilai tambah. Penemuan sumur migas North Ganal oleh PT ENI dengan potensi 5 Tcf gas bumi serta proyek RDMP Balikpapan dinilai bisa menjadi momentum baru untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Selain migas dan petrokimia, sektor agro-maritim, logistik, jasa industri, hingga industri pendukung Ibu Kota Nusantara mulai disebut sebagai jalan keluar agar ekonomi Kaltim tidak terus bergantung pada siklus naik-turun komoditas tambang.
Bagi Kaltim, tantangan ke depan bukan lagi sekadar menjaga surplus perdagangan tetap besar. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan surplus itu lahir dari ekonomi yang lebih tahan krisis, lebih bernilai tambah, dan tidak mudah goyah ketika harga batu bara dunia berubah arah. [BIS/RIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















