BESARNYA produksi kelapa sawit nasional, Indonesia ternyata masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan fatty amine—bahan kimia penting yang dipakai dalam deterjen, kosmetik, hingga pelembut pakaian. Celah pasar itu kini dibidik Kalimantan Timur (Kaltim) lewat proyek industri senilai Rp1,88 triliun di Kota Bontang.
Pemerintah menawarkan proyek pembangunan industri fatty amine melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO) di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang. Pabrik tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 20 ribu ton fatty amine dan 4 ribu ton gliserol per tahun.
Kepala DPMPTSP Kota Bontang Muhammad Aspianur mengatakan proyek ini disiapkan untuk memperkuat hilirisasi sawit nasional sekaligus menekan ketergantungan impor bahan kimia industri yang selama ini masih tinggi.
“Proyek ini diproyeksikan mampu memperluas rantai pasok pengolahan kelapa sawit sekaligus menjadi jawaban untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri di dalam negeri,” kata Aspian dalam keterangan resmi, Rabu (20/5/2026).
Fatty amine merupakan produk turunan sawit bernilai tambah tinggi yang banyak dipakai dalam industri rumah tangga dan manufaktur. Bahan ini menjadi komponen penting dalam pembuatan deterjen, pembersih rumah tangga, kosmetik, hingga bahan kimia industri lainnya.
Pasarnya juga terus tumbuh. Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, permintaan global fatty amine pada 2022 mencapai 1,7 juta ton dan diperkirakan meningkat rata-rata 6,6 persen per tahun hingga 2029. Ironisnya, di tengah posisi Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar dunia, kebutuhan domestik masih banyak dipenuhi dari impor.
Bontang dipilih karena dinilai memiliki rantai industri yang relatif siap. Kawasan KIE disebut dekat dengan pelabuhan utama, memiliki infrastruktur energi memadai, serta terhubung dengan industri petrokimia dan produsen amonia berskala besar. Faktor itu dinilai penting untuk menekan biaya logistik dan menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku.
Secara finansial, proyek ini juga diklaim cukup menarik bagi investor. Pemerintah mencatat potensi Internal Rate of Return (IRR) mencapai 16,28 persen, Net Present Value (NPV) sekira Rp743 miliar, dengan periode pengembalian modal diperkirakan delapan tahun.
Tak hanya mengejar investasi, pemerintah juga mencoba menjual narasi industri hijau dalam proyek ini. Kawasan pabrik direncanakan menggunakan konsep green architecture, dilengkapi area terbuka hijau, panel surya, serta sistem smart building.
Jika terealisasi, proyek tersebut diperkirakan tidak hanya membuka pasar ekspor baru berbasis hilirisasi sawit, tetapi juga memperkuat posisi Bontang sebagai salah satu pusat industri pengolahan sumber daya alam di Indonesia. [RIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















