GELOMBANG keresahan pengemudi ojek online di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai mendapat perhatian pemerintah. Sehari menjelang aksi besar driver online, Rabu (20/5/2026), Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, secara terbuka mengakui para mitra aplikator berada dalam posisi rentan: bisa kehilangan pekerjaan kapan saja tanpa pesangon maupun jaminan pensiun.
Pernyataan itu disampaikan Seno saat menerima audiensi Aliansi Mitra Kaltim Bersatu (AMKB) di Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (19/5/2026). Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya keluhan driver online soal tarif, program aplikator, hingga makin ketatnya persaingan antar-pengemudi.
“Mereka adalah pejuang nafkah bagi keluarganya dan saat ini mereka merupakan pekerja rentan. Mereka pekerja informal kapanpun bisa diberhentikan, tanpa ada pesangon, tanpa pensiun,” kata Seno.
Isu kesejahteraan driver online belakangan menjadi sorotan di berbagai daerah, terutama sejak banyak pengemudi mengeluhkan pendapatan yang terus tergerus akibat potongan aplikasi, program promosi, hingga bertambahnya jumlah driver baru. Di Kaltim, keresahan itu kini bermuara pada rencana aksi besar yang akan digelar komunitas ojol.
Koordinator AMKB, Ifan Jaya, mengatakan aksi pada 20 Mei akan membawa lima tuntutan utama. Salah satunya penghentian program slot food dan double order yang dinilai memberatkan pengemudi.
Selain itu, driver juga meminta penghapusan Program Langganan GoCar dan akses hemat berbayar, evaluasi tarif pengantaran makanan dan barang, pembatasan perekrutan driver baru, serta evaluasi tarif dalam SK Gubernur Kaltim tentang ASK.
Bertambahnya jumlah pengemudi baru menjadi salah satu isu yang paling banyak dikeluhkan. Driver menilai pendapatan makin menurun karena order harus dibagi dengan jumlah mitra yang terus bertambah, sementara tarif dinilai belum mengalami penyesuaian signifikan.
Di hadapan perwakilan AMKB, Seno menyebut pemerintah berada di posisi menjaga keseimbangan antara kepentingan pelanggan, mitra pengemudi, dan perusahaan aplikator. Pemprov Kaltim, kata dia, tidak ingin tarif terlalu mahal bagi masyarakat, tetapi juga tidak ingin driver terus berada dalam tekanan ekonomi.
“Keterkaitan tiga pihak ini yang harus kita jaga yaitu pelanggan, mitra dan aplikator. Tiga hal yang harus kita pertimbangkan baik-baik,” ujarnya.
Meski demikian, Seno juga mengapresiasi keberadaan perusahaan aplikator karena dinilai membuka lapangan kerja baru di Kalimantan Timur. Menurut dia, sektor transportasi online telah menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat informal, terutama di tengah sulitnya lapangan pekerjaan formal.
Audiensi tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat Pemprov Kaltim dan jajaran kepolisian. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak aplikator terkait tuntutan yang akan dibawa dalam aksi driver online tersebut. [RIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

















