BALIKPAPAN, Pranala.co – Hujan turun sejak pagi di Balikpapan Utara. Dingin. Basah. Tapi ada tawa kecil di balik rinainya. Tawa tiga anak kecil yang bermain air di dekat parit belakang rumah, kawasan RT 76, Kelurahan Batu Ampar.
Lalu tawa itu berubah jadi jeritan. Mohamad Iksan, 1 tahun 10 bulan, hanyut terbawa arus parit. Semuanya terjadi begitu cepat.
Hanya karena sandal kecilnya ikut hanyut, dan ia berusaha mengambilnya. Ia terpeleset. Arus deras langsung menyeret tubuh mungilnya yang belum tahu apa-apa tentang bahaya air.
Kejadian itu berlangsung Selasa pagi, 27 Mei 2025, sekira pukul 08.00 WITA. Dalam hitungan menit, kampung geger.
Ketua RT 76, Yadi, yang sedang berada di sekolah saat itu, mendapat kabar dari warga. Ia langsung meluncur ke lokasi. Tapi Iksan sudah lenyap dari permukaan parit. Yang tertinggal hanya sandal kecilnya, dan isak tangis ibunya.
Basarnas Balikpapan tiba tak lama kemudian. Komandan Regu, Ary Triyanto, memimpin pencarian sejak pukul 09.00 WITA.
“Kami susuri aliran parit dari titik awal korban dilaporkan hanyut,” ujar Ary di lokasi.
Parit itu tampak biasa saja saat tidak hujan. Hanya sedalam semata kaki. Tapi pagi itu, hujan mengguyur deras. Air naik hingga 80 sentimeter dan mengalir kencang seperti sungai kecil yang marah.
Tim SAR gabungan dari Basarnas, BPBD Balikpapan, SAR Brimob Polda Kaltim, TNI, relawan, hingga warga, menyisir tiap sudut aliran parit. Namun hingga siang menjelang sore, Iksan belum ditemukan.
Air dari parit itu bermuara ke Waduk Wonorejo. Maka pencarian diperluas ke sana. Perahu karet diturunkan. Tim SAR menyisir permukaan waduk yang tenang—namun menyimpan kecemasan dalam-dalam.
“Fokus pencarian berikutnya di waduk, karena itu hilir dari parit ini,” jelas Ary.
Waktu terus berjalan. Tapi tubuh kecil Iksan belum juga ditemukan. Warga yang sejak pagi membantu, kini mulai diam. Tak banyak kata. Mereka hanya menunduk setiap kali menyusuri sisi-sisi waduk.
Iksan bermain hujan dengan dua temannya. Seperti anak-anak pada umumnya. Tak ada yang tahu, bahwa pagi itu akan menjadi kali terakhir mereka melihat Iksan tersenyum.
“Hanya karena ingin mengambil sandalnya yang hanyut, dia terjatuh. Airnya deras sekali,” ungkap Yadi, ketua RT. [SR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















Comments 1